
JoSS, SOLO — Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo siap mengubah citra atau rebranding sebagian armada Batik Solo Trans (BST) menyusul rencana pemanfaatan bus milik pemerintah Kota Solo ini menjadi bus sekolah.
Sementara itu, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo sudah menyelesaikan pemetaan sekolah yang dilewati koridor BST. Kebijakan ini menyusul pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di semua jenjang pendidikan.
Sekretaris Disdik Kota Solo, Dwi Ariyanto, mengaku sudah memberi tahu pengelola sekolah terkait rencana tersebut. Khususnya sekolah-sekolah di jalur yang akan dilewati bus tersebut.
“Trayeknya tetap sama, enggak ada perubahan jalur untuk menyesuaikan lokasi sekolah. Langkah ini diambil agar anak yang tak bisa diantar jemput orang tuanya bisa diakomodasi kendaraan umum, baik BST atau angkutan feeder khusus untuk pelajar. Ojek online dan sejenisnya belum diperbolehkan,” katanya, seperti dilansir dari solopos.com.
Kepala Dishub Kota Solo, Hari Prihatno, mengatakan sudah menyiapkan skenario rebranding BST dan angkutan feeder sebagai bus sekolah. Jumlah kendaraan yang disiapkan menyesuaikan kebutuhan sekolah yang dilewati.
Baca juga: Solo Terapkan Aplikasi PeduliLindungi di Mal, Restoran dan Objek Wisata
“Sebenarnya kalau tidak dibranding pun, BST kan masih gratis untuk umum. Namun, mental siswa dan orang tua siswa tentu berbeda saat kendaraan itu khusus untuk pelajar. Aturan menumpang BST juga sama selama pandemi, yakni sesuai protokol kesehatan,” jelasnya.
Dishub masih menghitung kebutuhan bus dan angkutan khusus untuk pelajar tersebut. BST maupun angkutan pengumpan yang akan digunakan diberi tanda khusus yang membedakan dengan armada untuk penumpang umum.
Simulasi penggunaan bus BST maupun feeder untuk bus sekolah di Kota Solo juga sudah diuji coba beberapa waktu lalu untuk siswa SMPN 3 dan SMPN 18 saat gedung sekolahnya dibangun.
“Kami menghitung berapa jumlah anak yang akan menumpang bus/angkutan pelajar kemudian sekolahnya. Teknisnya tidak berbeda ya, mereka naik turun di halte, jadi enggak keluar dari rute BST. Kalau rumah anak jauh dari halte kan bisa diantar orang tuanya dulu,” ucap Hari.
Ihwal penggunaan sepeda oleh para pelajar ke sekolah, ia mengaku belum mengetahui wacana tersebut. Hal itu dikarenakan kekhawatiran mereka mampir saat berangkat maupun pulang sekolah. Aktivitas mampir itu lah yang menimbulkan kekhawatiran mereka terpapar virus penyebab Covid-19.
“Ya kalau anak-anak itu enggak mampir-mampir kan ya aman. Sehingga harus ada penekanan dan kepastian mereka enggak mampir-mampir. Orang tua dan guru memantau perjalanan mereka saat berangkat dan pulang sekolah. Tapi kan sulit,” tegasnya. (lna)

Leave a Reply