
JoSS, SEMARANG – Kepala Program Studi (Prodi) Antropologi Undip, Dr. Amirudin terpilih sebagai Ketua Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) Pengurus Daerah Jawa Tengah periode 2021 – 2026. Pergantian kepengurusan AAI Jateng iniditentukan dalam Musda Pengda Jateng, Sabtu (2/10/2021).
Menurutnya tema Musda “Budaya Digital Dalam Masyarakat Industrial 4.0: Tantangan Dan Peluang Bagi Asosiasi Antropologi Indonesia” ini relevan mengingat perkembangan masyarakat yang sudah sampai di suasana masyarakat industrial 4.0, yang memiliki implikasi pada perubahan reproduksi SDM, perubahan cara menganalisi, serta perubahan cara meneliti budaya.
“Perkembangan masyarakat yang sudah sampai di suasana masyarakat industrial 4.0 ini, memiliki implikasi pada perubahan reproduksi SDM, perubahan cara menganalisi, serta perubahan cara meneliti budaya, sehingga sangat relevan untu tujuan AAI sendiri,” katanya seperti dilansir dari undip.ac.id.
Tujuan Musyawarah Daerah Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) adalah membahas garis-garis kebijakan dan program kerja serta kepengurusan AAI Pengurus Daerah Jawa (Pengda) Tengah periode 2021-2026.
Baca juga: Guru Besar FPIK UNDIP Prof Eko Nurcahya Dewi Ingatkan Adanya Ancaman Ketahanan Pangan dari Perairan
Mekanisme Musda berpedoman pada panduan pelaksanaan Musda yang diterbitkan AAI Pusat. Musda ini bertema Budaya Digital dan masyarakat Industrial: Tantangan dan Peluang bagi AAI. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Nurdien H. Kistanto, Dosen Antropologi Undip sekaligus Ketua Steering Commite, dalam acara Musda AAI Pengda Jateng dan Pidato Kebudayaan
Mewakili Gubernur Jawa Tengah, H. Ganjar Pranowo SH. M.IP, Kepala Dinas Kominfo Jateng, Riena Retnaningrum, SH. menyampaikan sambutan Gubernur dengan judul Membangun Budaya Digital Untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Era Revolusi Industri 4.0, yang membahas diantaranya mengenai Literasi dan Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).
SDM berkualitas adalah kunci menuju negara berpendapatan tinggi, literasi berperan mencerdaskan kehidupan bangsa, menghadirkan SDM unggul dan berkualitas dan kegiatan literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis namun mengatasi persoalan, meningkatkan kualitas hidup serta kesejahteraan.
Membangun budaya digital harus disiapkan infrastruktur mulai dari regulasi, finansial, perangkat, SDM, dan data. Dimulai dari yang benar-benar bermanfaat untuk public seperti bidang ekonomi, info pandemic, dsb. Literasi harus intens dan kontinyu, tangkal penyalahgunaan media digital seperti hoax, penipuan, dan lain sebagainya. (lna)

Leave a Reply