AP II Tunda Pengembangan Bandara JB Seodirman Purbalingga Karena Dampak Pandemi

Ilustrasi aktivitas Bandara JB Seodirman Purbalingga (Foto: youtube lman aviasi)

JoSS, PURBALINGGA – PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II masih menunda pengembangan lanjutan Bandara JB Soedirman di Purbalingga dengan memperhatikan sejumlah kondisi terkini seperti pandemi Covid-19.

VP Corporate Communication AP II Yado Yarismano mengatakan nilai pasti investasi pembangunan dan pengembangan bandara berkode saham PWL tersebut masih belum dapat diungkapkan. Namun, memang dengan dampak pandemi sejumlah rencana pengembangan bandara memang masih ditunda.

“Saat ini memang masih hold untuk pengembangannya dengan kondisi saat ini,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari bisnis.com Senin (25/10/2021).

Saat ini landasan pacu atau runway Bandara JB Soedirman telah selesai dibangun sepanjang 1.600 meter dan lebar 30 meter. Selain memiliki landas pacu tersebut, bandara tersebut memiliki apron seluas 100 x 76 meter, dan taxiway sepanjang 70 x 13 meter.

Dengan kapasitas tersebut, bandara dapat digunakan untuk melayani penerbangan pesawat jenis twin propeller seperti ATR 72-600. Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin mengatakan bahwa Bandara Jenderal Besar Soedirman sudah memulai operasinya per 1 Juni 2021 dan kemudian dilakukan penerbangan komersial perdana per 3 Juni 2021.

Rencananya, pembangunan bandara akan dikembangkan dengan penambahan fasilitas panjang landas pacu menjadi 2.200 meter. Dengan kondisi tersebut, nantinya pesawat yang lebih besar seperti Airbus 320 dan Boeing 737-800 atau 737-900 sudah bisa mendarat di Bandara JB Soedirman.

Baca juga: Citilink Setop Operasional di Bandara Jenderal Besar Soedirman Purbalingga

“Kapasitas terminal pun akan kemudian berganti yang sekarang masih dalam posisi terminal temporer akan kemudian menjadi permanen yang kemudian akan kami kembangkan dan insyaallah akan selesai dengan luasan 1.300 meter persegi pada awal 2023 nanti,” ujarnya.

Selain itu, meskipun terminal belum selesai, bandara tersebut telah beroperasi. Pengoperasian bandara tanpa menunggu pembangunan terminal selesai menjadikannya lebih produktif dibandingkan jika harus menunggu terminal selesai dahulu.

Presiden Joko Widodo dalam tinjauannya di bandara tersebut pada 11 Juni 2021 pun menjelaskan cara-cara seperti itu juga diharapkan bisa diikuti oleh bandara-bandara lain yang kini masih dalam proses pembangunan.

Direktur Utama PT Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahjo buka suara mengenai keputusan maskapainya menghentikan penerbangan ke Bandara Jenderal Besar Soedirman, Purbalingga.

Juliandra mengatakan, keputusan untuk menghentikan jadwal penerbanagana ke bandara di Purbalingga tersebut didasarkan oleh kondisi di lapangan. Menurutnya, okupansi di bandara di Jawa Tengah tersebut sangat rendah.

Dia pun menyebutkan penyetopan rute penerbangan ke Bandara Jenderal Besar Soedirman, Purbalingga dilakukan sementara waktu. Namun demikian, dia tidak menyebutkan kapan perkiraan akan kembali melanjutkan rute penerbangan ke bandara tersebut.

“Kami tidak mengoperasikan ke sana [Purbalingga] karena kebetulan isiannya sangat rendah di minggu ketiga dan minggu keempat Oktober ini,” ujarnya, Minggu (24/10/2021). Meski demikian, Juliandra tak menyebut secara pasti kapan tepatnya penghentian operasi tersebut.

Citilink menjadi satu-satunya maskapai yang beroperasi bandara berkode PWL tersebut dan mendapatkan slot penerbangan pada Kamis dan Sabtu untuk mengoperasikan rute Jakarta – Purbalingga – Surabaya dan sebaliknya.

Bandara Jenderal Besar Soedirman diharapkan bisa berkontribusi untuk menumbuhkan ekonomi di Jateng. Tidak hanya Purbalingga, namun daerah lain seperti Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, Wonosobo, termasuk Kebumen, dan daerah lainnya. Dengan demikian diharapkan mobilitas orang, barang dan logistik akan lebih baik. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*