Proyek Geothermal di Dataran Tinggi Dieng Bakal Jadi Wisata Energi Panas Bumi

Geothermal Dieng (Foto; tangkapan layar youtube Ubay Zulfikar)

JoSS, BANJARNEGARA – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendukung pengembangan proyek geotermal di Dataran Tinggi Dieng sebagai upaya mewujudkan kemandirian energi, sekaligus menjadi destinasi wisata energi panas bumi.

“Selain untuk suplai energi masyarakat industri dan pariwisata, proyek geothermal di sekitar kawasan Kawah Sikidang Dieng itu bisa dijadikan wisata energi panas bumi,” kata Ganjar Pranowo saat meninjau proyek geotermal PT Geo Dipa Energi di sekitar Kawah Sikidang, Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Rabu.

Mengutip dari Antara, Ganjar menyebut energi panas bumi di Jawa Tengah cukup banyak dan geotermal Dieng merupakan salah satu yang pertama dari PT Geo Dipa Energi.

“Sebenarnya pengembangan di wilayah Gunung Slamet dan Gunung Lawu itu juga ada potensi besar, kalau kita bicara energi alternatif dan energi yang bisa terbarukan maka ini energi yang bagus,” ujarnya.

Pengembangan proyek geotermal, lanjut dia, bisa lebih dirapikan lagi, khususnya penggunaan teknologi yang lebih efisien sehingga memiliki manfaat yang bagus.

Proyek geothermal di Kawasan Dataran Tinggi Dieng sendiri terus dikembangkan, bahkan dalam waktu dekat PT Geo Dipa Energi akan menambah 12 sumur gas di daerah Karang Tengah, Kabupaten Banjarnegara.

“Mudah-mudahan suplainya bisa lebih banyak. Kalau bisa lebih banyak nanti tidak hanya suplai energi untuk masyarakat dan industri tetapi juga pariwisata di sekitar Dieng,” katanya.

Ia menambahkan selain memenuhi kebutuhan energi terbarukan, proyek geotermal itu juga bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata energi.

Baca juga: Selain Candi Arjuna, Wisata Alam di Dieng Tetap Beroperasi Dengan Pembatasan

“Sebenarnya ini bisa juga jadi destinasi wisata. Wisata energi yang bersumber dari panas bumi, jadi nanti banyak anak akan bisa belajar, bisa melihat. Melalui kekayaan luar biasa ini kita bisa buat mandiri energi,” ujar Ganjar

Diapun mendorong munculnya desa mandiri energi dengan memanfaatkan potensi energi yang ada di daerah masing-masing.

“Dinas ESDM Jateng sudah saya minta untuk mencari se-Jateng itu ada di mana saja. Model seperti ini juga sudah kita gunakan di Grobogan dan Sragen, kalau level desa saja bisa mandiri energi, ‘jos gandos’,” katanya usai meninjau dan meresmikan separator Biogenic Shallow Gas (BSG) di Desa Pegundungan, Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, Rabu.

Menurut Ganjar, pemanfaatan gas rawa atau BSG di Desa Pegundungan, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, menjadi spirit munculnya desa mandiri energi.

“Saya senang spirit desa mandiri energi bisa diwujudkan. Di tanah kita yang kita injak ternyata ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan yaitu gas,” ujarnya.

BSG di Desa Pegundungan saat ini sudah dialirkan dan digunakan kepada 25 rumah atau setidaknya masih ada sekitar 138 rumah yang belum terpasang instalasi BSG.

Terkait dengan hal itu, Ganjar mengatakan setelah peresmian itu nanti dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah akan membantu pemasangan instalasi di 100 rumah.

“Mudah-mudahan nanti yang lainnya tinggal kita bereskan, ada sekitar 138 KK lagi yang akan menggunakan maka semua ‘tercover’. Nanti Dinas ESDM akan bantu 100, sisanya nanti dari desa. Lumayan (dengan BSG) tidak akan ada lagi uang yang dikeluarkan untuk beli elpiji karena di sini sudah disediakan,” katanya.(lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*