
JoSS, HAITI – Presiden Haiti Jovenel Moise tewas ditembak di rumahnya, Rabu (7/7/2021). Menurut keterangan Pelaksana Tugas Perdana Menteri Haiti Claude Joseph, Moise dibunuh secara “sadis dan barbar”.
Moise bukan satu-satunya korban. Joseph berkata, istri Moise juga menjadi korban pada serangan yang sama. Walau begitu, ia tidak tewas dan sekarang sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
“Segala tindakan telah kami ambil untuk memastikan pemerintahan tetap berjalan dan kepentingan nasional terlindungi,” ujar Joseph, dikutip dari kantor berita Reuters.
Apa penyebab pembuhunan dan siapa pelakunya masih diselidiki hingga berita ini ditulis. Adapun Haiti tengah menghadapi krisis kemanusiaan saat ini karena ketegangan politik, kerusuhan, dan habisnya supplai cadangan makanan.
Port-au-Prince, ibu kota Haiti, menjadi salah satu lokasi di mana kerusuhan kerap terjadi. Akhir-akhir ini, gangster dan kepolisian rutin bentrok di sana untuk mengambil alih kendali atas jalanan.
Mengutip tempo.co, Jovenel Moise menjadi figur sentral dalam krisis tersebut. Pria yang menjadi Presiden Haiti sejak 2017 itu dianggap oposisinya hendak memperpanjang periode kepemimpinannya secara paksa dan menjadi figur yang otoriter. Moise, sebelum meninggal, membantah tuduhan itu.
Januari lalu, Moise sempat menjadi target kudeta. Otoritas Haiti kemudian menahan kurang lebih 20 orang, termasuk seorang hakim Mahkamah Agung (MA) dan pejabat senior kepolisian, atas tuduhan upaya kudeta.
Baca juga: Stefan Lofven, Perdana Menteri Swedia Pertama Yang Digulingkan Parlemen
Otoritas Haiti pada Minggu (7/1/2021) lalu, menahan hampir 20 orang, termasuk seorang hakim Mahkamah Agung (MA), atas tuduhan bersekongkol menggulingkan Presiden Haiti, Jovonel Moise. Penahanan ini telah memperburuk ketegangan politik di negara itu.
Perdana Menteri Haiti, Joseph Jouthe, mengatakan ada seorang pejabat senior kepolisian berada di antara total 23 orang yang ditahan. Dalam penahanan itu, disita pula uang, senjata dan amunisi.
“Orang-orang ini telah melakukan kontak dengan pejabat keamanan istana dan pejabat tinggi istana dengan misi menahan presiden dan untuk memfasilitasi penunjukkan seorang presiden baru,” kata Jouthe.
Presiden Moise tak lama kemudian memberi keterangan kalau persekongkolan itu ditujukan untuk membuat sebuah kerusakan dalam hidupnya. Moise sedang dalam perjalanan untuk sebuah acara peluncuran karnaval tahunan di Kota Jacmel
Pada pekan sebelum penangkapan beberapa politikus oposisi di Haiti mengumumkan sebuah rencana untuk menggantikan Presiden Moise dengan kepala negara yang baru. Mereka menuding Presiden Moise telah bertindak otoriter dan menimbulkan kekacauan ekonomi. Haiti telah menjadi negara paling miskin di wilayah paling barat bumi.
Pada 7 Februari 2021, unjuk rasa anti-pemerintah bentrok dengan aparat kepolsiian di Port-Au-Prince. Aparat kepolisian melepaskan tembakan gas air mata pada para demonstran. Unjuk rasa melawan Pemerintahan Moise juga merebak di beberapa kota lain di Haiti.
Kubu oposisi berencana meminta masyarakat sipil dan beberapa pemimpin oposisi di negara itu untuk memilih presiden yang baru dari salah satu hakim Mahkamah Agung, ketimbang menunggu pemilu presiden Haiti yang dijadwalkan pada September 2021.
Saat itu, Moise mengatakan dia hanya akan menyerahkan tampuk kekuasaan pada pemenang pemilu, namun tidak akan mengundurkan diri sampai masa jabatan pemerintahannya berakhir pada 2022. (lna)

Leave a Reply