Kuartal II/2021, Bank Jateng Berhasil Catatkan Pertumbuhan Aset 12,45% Di Tengah Pandemi

JoSS, SEMARANG – PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Tengah atau Bank Jateng berhasil mencatatkan kinerja yang gemilang di tengah pandemi. Akhir Juni 2021, aset Bank Jateng mencapai Rp81,62 triliun dan tumbuh 12,45 persen dibandingkan periode sama tahun 2020.

Direktur Utama Bank Jateng Supriyatno mengatakan pandemi Covid-19 memberikan tekanan cukup berat bagi perbankan, khususnya risiko kredit dan Bank Jateng telah merespon tantangan tersebut dengan menerapkan berbagai inisiatif dan pengelolaan risiko yang efektif untuk menjaga pertumbuhan bisnis dan kualitas aset.

Dia menambahkan peningkatan aset sebesar 12,45 persen itu didukung oleh penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp67,81 triliun dan tumbuh 17,81 persen (yoy). Sementara itu, penyaluran kredit mencapai Rp51,89 triliun dan tumbuh 4,88 persen (yoy).

“Meskipun moderat, pertumbuhan kredit Bank Jateng lebih baik dibandingkan perbankan yang justru mengalami penurunan hingga 2,89 persen,” katanya, dalam keterangan persnya.

Peningkatan kredit Bank Jateng ditopang oleh Kredit UMKM yang tumbuh sebesar 12,40 persen dan kredit konsumer yang tumbuh 4,42 persen,  sedangkan kredit kepada segmen korporasi dilakukan pembatasan untuk mitigasi risiko kredit.

Untuk laba usaha meningkat selama semester I-2021, Bank Jateng mencatat laba usaha sebesar Rp1,09 triliun dan tumbuh 16,09 persen dari periode yang sama tahun lalu.

“Pencapaian laba usaha yang baik ini tidak lepas dari strategi perseroan dalam pengelolaan aset dan efisiensi operasional,” kata Supriyatno.

Disamping indikator keuangan yang meningkat, ketahanan Bank Jateng juga terjaga baik, tercermin dari rasio keuangan yang berada pada komposit sehat sesuai ketentuan otoritas.

Rasio penyaluran kredit terhadap dana pihak ketiga (DPK) atau loan to deposit ratio (LDR) berada pada kisaran ideal sebesar 76,52 persen; Rasio current account saving account (CASA) mencapai 54,01 persen yang menunjukkan mayoritas DPK merupakan Giro dan Tabungan sebagai sumber dana berbiaya rendah.

Baca juga: Bank Jateng dan Yayasan Veteran Bikin Masjid di Univet Sukoharjo

Bank Jateng juga mampu menjaga efisiensi operasional dengan baik, yang diindikasikan dengan rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) sebesar 70,92 persen di bawah rata-rata industri perbankan yang mencapai kisaran 85 persen.

Kondisi perekonomian yang belum pulih dan pembatasan aktivitas akibat pandemi, telah berdampak pada penurunan aktivitas bisnis di banyak sektor usaha.

Untuk membantu pelaku usaha yang terdampak COVID-19, Bank Jateng telah melakukan restrukturisasi kredit bagi 17.201 pelaku usaha senilai Rp 6,85 triliun dan relaksasi kredit tersebut bertujuan agar pelaku usaha dapat menata kembali bisnisnya.

Namun untuk debitur tertentu tidak dapat dilakukan restrukturisasi, sehingga menyebabkan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) sebesar 3,73 persen, rasio NPL tersebut masih dibawah batasan sesuai ketentuan otoritas sebesar 5 persen.

Akselerasi Layanan Digital Kondisi pandemi telah mendorong kebutuhan masyarakat akan layanan digital semakin meningkat. Bank Jateng telah merespon hal tersebut dengan berbagai terobosan layanan digital.

Untuk kemudahan layanan transaksi nasabah, Bank Jateng telah memiliki internet banking dan
Bima Mobile Banking. Bahkan untuk Pajak Daerah dan Pajak Bumi Bangunan (PBB), nasabah dapat melakukan pembayaran dengan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) dan melalui marketplace, seperti: Gopay dan Tokopedia.

Untuk meningkatkan layanan digital, Bank Jateng sedang menyiapkan digital lounge yang memungkinkan nasabah dapat melakukan transaksi secara mandiri, seperti: cetak buku atau rekening koran (self service passbook printer), setor dan tarik tunai (cash recycle machines), dan layanan teller (self service teller cash recycler). Sementara di bidang kredit, Bank Jateng juga telah mengembangkan layanan kredit PLO secara elektronik (e-PLO), loan origination sytem (LOS) kredit mikro, sales kit dan lainnya.

Dengan berbagai layanan digital tersebut, nasabah Bank Jateng dapat melakukan kebutuhan transaksinya dengan mudah, cepat dan murah, serta dapat dilakukan kapan saja dan dimanapun
berada.

Untuk mendorong pemulihan ekonomi, tantangan perbankan saat ini masih pada penyaluran kredit kepada sektor riil. Untuk itu perlu didorong lagi upaya untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga, sehingga akan mempercepat laju perekonomian.

“Bank Jateng tetap komitmen untuk berperan lebih besar lagi dalam upaya pemulihan ekonomi nasional, sebagai mitra Pemerintah dalam penyaluran bantuan dan program stimulus lainnya,” kata Supriyatno. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*