
JoSS, TOKYO – Panitia penyelenggara Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo berencana kembali memangkas sebanyak 25.000 ofisial dan staf dari luar negeri sehingga jumlah yang diizinkan hadir menjadi sekitar 53.000 orang. Kebijakan ini dilakukan guna menekan penyebaran virus corona yang tengah mengganas di Negeri Matahari Terbit ini.
Dilansir dari Antara, jumlah ofisial dan staf dari luar negeri tersebut turun dari sebelumnya setelah mengalami pemangkasan, yaitu 78.000 orang, dan kurang dari sepertiga dari jumlah awal.
Panitia penyelenggara memperkirakan total sekitar 180.000 pejabat dan staf, termasuk media, akan melakukan perjalanan dari luar negeri. Namun, kemudian diputuskan untuk memangkas jumlah itu demi membuat pertandingan jauh lebih aman.
Petugas pelaksana Olimpiade, Hidemasa Nakamura, dikutip dari Kyodo, Jumat (18/6), mengatakan bahwa penyelenggara dapat mengurangi jumlah anggota keluarga Olimpiade, merujuk pada ofisial dari Komite Olimpiade Internasional (IOC), juga termasuk Badan Anti-Doping Dunia.
Jumlah pejabat dan staf dari luar negeri kemungkinan akan turun lebih banyak mendekati penyelenggaraan Olimpiade, yang akan digelar dalam waktu sekitar satu bulan, menurut Nakamura, setelah mengadakan diskusi dengan panel ahli penyakit menular.
Lebih dari 100 pekerja medis dari luar negeri juga menawarkan diri untuk menjadi sukarelawan di Olimpiade, dan panitia telah mempertimbangkan di mana akan menempatkan mereka dan kapan akan membawa mereka.
Bulan lalu, Presiden IOC Thomas Bach mengatakan staf medis tambahan dari luar negeri akan dikirim oleh komite Olimpiade nasional selama pertandingan untuk membantu penyelenggaraan dan implementasi penanggulangan Covid-19 di kampung atlet dan venue.
Baca juga: Jurnalis Peliput Olimpiade Tokyo Bakal Dibatasi, Pergerakannya Dipantau Dengan GPS
Publik Jepang khawatir Olimpiade dapat menambah beban pada sistem medis Jepang, dengan komite telah mengamankan sekitar 90 persen dokter dan 80 persen perawat yang dibutuhkan untuk membantu Olimpiade.
Olimpiade Tokyo, yang akan dibuka pada 23 Juli, akan diadakan tanpa penonton dari luar negeri sebagai bagian dari langkah-langkah untuk mencegah penyebaran virus corona.
Sementara itu, Pemerintah Tokyo dikabarkan akan melonggarkan aturan konsumsi alkohol di restoran dan bar seiriang dengan pengangkatan status darurat nasional Covid-19 . Walau begitu, jangan berharap bakal bisa menggelar pesta alkohol.
Pemerintah Tokyo, dalam keterangannya, menyatakan bahwa pelonggaran tersebut hanya berlaku untuk peminum yang datang ke bar dan restoran seorang diri. Jika datang beramai-ramai, maka tidak akan dilayani. Kelonggaran itu pun dibatasi dua jam saja per harinya.
“Aturan berlaku dari jam 17.00 – 19.00 (waktu setempat). Pukul 20.00, bar dan restoran harus tutup. Satu pelanggan hanya boleh menghabiskan waktu di bar paling lama 90 menit,” ujar sumber di Pemerintah Tokyo, Jumat, 18 Juni 2021.
Pemerintah Tokyo tidak menutup kemungkinan pelonggaran tersebut dibuka lebih lebar lagi. Menurut laporan di Nikkei, proposal untuk memperbolehkan bar dan restoran memberikan alkohol pada peminum yang datang berpasangan juga dipertimbangkan.
Sebelumnya, Pemerintah Tokyo mengetatkan pemberian alkohol tersebut untuk menekan minat warga ke bar dan restoran di kala pandemi. Mereka khawatir keberadaan alkohol akan membuat warga berkumpul di bar, menetap di sana terlalu lama, dan pada ujungnya menjadi cluster Covid-19. (lna)

Leave a Reply