
JoSS, JAKARTA – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan alasan pihaknya baru memberi informasi potensi tsunami setelah satu jam lebih memberi informasi gempa Magnitudo 6,0 di kedalaman 19 kilometer di Maluku Tengah.
Menurut Dwikorita, hal itu lantaran membaca dampaknya berdasarkan gempa tektonik, yang disebut tidak berpotensi tsunami.
“Hasil pemodelan tsunami, gempa itu tidak berpotensi tsunami karena kekuatan masih [Magnitudo] 6 dan posisinya di perbatasan laut dengan pantai. Jadi secara tektonik tidak berpotensi tsunami,” ujar Dwikora dalam acara virtual, Rabu (16/6).
Dijelaskan Dwikorita, hasil observasi tinggi muka air laut di stasiun Badan Informasi Geospasial di Tehoru pada akhirnya menunjukkan ada kenaikan permukaan air laut setinggi setengah meter usai gempa. Hal ini yang kemudian memicu munculnya peringatan kedua.
“Ini diperkirakan akibat dari adanya longsor tebing bawah laut,” ucap Dwikorita.
Dwikora menuturkan sistem peringatan dini tsunami BMKG saat ini masih berdasarkan gempa tektonik. Sehingga, pihaknya tidak dapat memberikan peringatan dini tsunami yang berasal dari longsor bawah laut.
Baca juga: BMKG Angkat Suara Atas Isu Gelombang Panas Landa Indonesia
Lebih lanjut, Dwikora menyampaikan gempa yang terjadi di tenggara Maluku Tengah setelah dimutakhirkan sebesar magnitudo 6 dengan kedalaman 19 kilometer. Gempa, kata dia juga bukan terjadi di laut, melainkan di perbatasan laut dan pantai.
Adapun jenis gempa itu adalah gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme sesar turun atau normal fault,” ujarnya.
Dwikora mengatakan guncangan gempa bumi dirasakan di Tehoru, Masohi, Bula, Kairatu, Saparua, Wahai, dan pulau Ambon.
Berdasarkan data, BMKG mencatat ada 16 kali gempa susulan dengan rentang magnitudo 1,9 sampai 3,7.
Kepala bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan tsunami yang terjadi di Kecamatan Tehoru, Maluku Tengah akibat terjadinya longsoran bawah laut.
“Hasil pmodelan tsunami dgn sumber gempa Malteng M6,0 kedalamn 19 km mnunjukkan bhw gempa ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI, namun ddasarkan hasil observasi muka laut sta TEHORU menunjukkan ada kenaikan muka air laut stinggi 0,5 m. Hal ini diperkirakan akibat dari longsoran bawah laut,” ujar Daryono lewat akun Twitternya, sebagaimana dilansir dari CNNIndonesia.
Menurut Daryono hingga Rabu, pukul 13.35 WIB, telah terjadi 13 gempa susulan di Maluku Tengah.
“Hingga hari Rabu, 16 Juni 2021 pukul 13.35 WIB, pasca Gempa Maluku Tengah M6,0 hasil monitoring BMKG telah terjadinya 13 (tiga belas) gempabumi susulan ( aftershock ) dengan magnitudo terbesar M=3,5,” cuit Daryono.
Sebelumnya, terjadi gempa magnitudo 6,1 mengguncang Maluku Tengah, Rabu (16/6). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat gempa terjadi pukul 11.43 WIB.
Lokasi gempa berada 3.39 LS dan 129.56 atau sekitar 67 kilometer tenggara Maluku Tengah. Gempa berkedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut.
Beberapa jam kemudian warga Desa Tehoru, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah dilaporkan berhamburan mencari daerah dataran tinggi usai melihat gelombang pasang di Pelabuhan Tehoru setelah terjadi gempa bumi terjadi.
Naiknya air terbilang tidak tinggi, namun fenomena itu membuat warga panik lantaran sebelumnya terjadi gempa Magnitudo 6,1.
Lokasi gempa berada 3.39 LS dan 129.56 atau sekitar 67 kilometer tenggara Maluku Tengah. Gempa berkedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut. (lna)

Leave a Reply