Profesor Dwi Hudiyanti Ungkap Efektivitas Nanokapsul Liposom untuk Pengobatan Kanker

Prof. Dr. Dra. Dwi Hudiyanti, M.Sc, dikukuhkan sebagai Guru Besar Kimia Biofisik di Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (UNDIP), Kamis (27/5/2021). (Foto: undip.ac.id)

JoSS, SEMARANG – Dalam dunia kedokteran cukup banyak ditemukan kejadian kemanjuran obat yang tidak sesuai dengan dijanjikan sebagai manfaat, bahkan kadang-kadang justru muncul efek samping yang tidak diinginkan seperti yang terjadi pada pengobatan kanker.

“Melihat masalah ini saya tergerak untuk berkontribusi mencarikan solusinya, yaitu lewat penghantaran atau pemberian obatnya. Didukung rekan sejawat dan mahasiswa kami berupaya mengembangkan penghantaran obat yang efektif,” kata Prof. Dr. Dra. Dwi Hudiyanti, M.Sc, pada pengukuhannya sebagai Guru Besar Kimia Biofisik di Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (UNDIP), Kamis (27/5/2021).

Dilansir dari undip.ac.id, dia menjelaskan problem besar dalam upaya pengobatan  adalah ketidak sesuaian efek yang diharapkan dari pemberian obat.

Atau bisa juga munculnya efek samping yang relatif sama merusaknya dengan penyakit itu sendiri. Pada umumnya ini terjadi karena obat yang tidak  mencapai  situs  target, atau terjadi masalah dalam cara pemberian/penghantarannya.

Beberapa obat, kata Hudiyanti yang lulus program S2 Surface Chemistry and Colloids dari  Faculty of Science University of Bristol Inggris tahun 1995 ini; terdegradasi secara kimiawi atau enzimatik di dalam lambung sementara yang lain menyebabkan iritasi.

Dalam kasus lain obat dapat larut dengan sangat cepat dan diserap dengan sangat cepat pada saluran pencernaan. Hal ini dapat menyebabkan puncak konsentrasi obat dalam plasma menjadi tinggi dalam waktu singkat yang kemudian diikuti dengan eliminasi obat secara cepat, akibatnya obat memiliki durasi kerja yang  singkat.

Hudiyanti yang menyelesaikan Program S1 dan S3-nya di FMIPA Universitas Gajah Mada, mengungkap adanya masalah pada efek samping yang terlalu kuat sehingga dapat menghalangi pengobatan yang efisien.

Untuk mengatasi masalah tersebut, dia mengembangkan nanokapsul liposom yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat efektif, efisien, aman dan handal tanpa dibayangi efek samping yang merugikan. Nanokapsul liposom yang dirancang juga mendasarkan dari berbagai senyawa fosfolipida alam asli Indonesia.

Pospolipid dari sumber alam yang sudah digunakan, kata nenek tiga cucu ini, di antaranya dari daging kelapa, wijen, kemiri, dan kacang koro. Beberapa yang sudah diujicobakan dengan keberhasilan sekitar 80 % adalah cucurmin, vitamin C dan betakaroten.

Baca juga: Mahasiswa UNDIP Ciptakan Alat Pengolah Limbah Batik Metode Ozonasi

Nanokapsul liposom digambarkan sebagai suatu kapsul berukuran nanometer yang dindingnya tersusun atas molekul-molekul lemak kompleks, yang dikenal sebagai molekul fosfolipida. Nanokapsul liposom unggul karena dapat menghantarkan berbagai jenis obat melalui berbagai alur pemberian, sehingga sesuai untuk pengobatan penyakit kanker dan infeksi virus.

“Sedangkan sebagai penghantar vaksin, nanokapsul liposom memiliki keunggulan diantaranya memiliki sifat kimia fisik yang sesuai, waktu pelepasan dan sirkulasi, serta stabilitas obat yang tepat dan efek samping yang rendah,” ujar Hudiyanti yang juga menjabat sebagai Ketua Departemen Kimia FSM Undip sejak tahun 2016.

Memang, pemakaian nanokapsul loposom untuk kebutuhan medis masih diperlukan serangkaian proses yang harus dilakukan bersama dengan pakar kedokteran dan pakar farmasi. Penerapannya harus melalui berbagai uji klinis dalam berbagai tahap.

Namun, pengampu mata kuliah Kimia Biofisik, Kimia Permukaan dan Koloid, Sistem Penghantaran Bahan Aktif, dan Biofisik Pangan pada program magister kimia ini memastikan pemanfaatan nanokapsul loposom pada kosmetik dan makanan prosesnya lebih sederhana.

Dia menyitir survey yang dilakukan Transparency Market Research (TMR), yang memproyeksikan pasar nanokapsul liposom cukup menjanjikan. Menurut TMR, pasar global nanokapsul liposom di tahun 2027 akan berkembang dengan nilai pasar sebesar USD 8 juta (Rp 120 miliar).

Karena itu, Hidiyanti bersama para koleganya di Undip termasuk para mahasiswanya, mencoba mengembangkan penghantaran antikanker dan vaksin, menajamkan studi teoritik tentang kestabilan sediaan nanokapsul liposom alami, penyempurnaan metodologi isolasi dan scale up produksi sediaan nanokapsul liposom alami dan isolat fosfolipida.

Kepada para rekan dosen, alumni SMAN 1 Tegal ini mengajak agar tetap semangat mencari terobosan baru dalam menjawab berbagai tantangan yang muncul pada setiap aktivitas tri darma. “Untuk para mahasiswa, aplikasi ilmu kimia itu sangat luas. Bahan dasar yang tersedia di Indonesia juga melimpah. Masih banyak hal yang bisa kita lakukan,” pungkasnya. (lna)

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*