Terusan Suez Macet Total, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

Kapal Ever Given berbelok ke samping terjebak di Terusan Suez (Foto: thesun.ie)

JoSS, MESIR – MV Ever Given, kapal berbendera Panama yang membawa kargo dengan jalur Asia dan Eropa, terjebak di Terusan Suez, Mesir, dan memblokir semua lalu lintas jalur air vital itu, Selasa (23/3/2021).

Otoritas setempat mengatakan kondisi yang terjadi di kanal yang memisahkan benua Afrika dari Semenanjung Sinai itu akan mengganggu sistem pengiriman global yang terkendala akibat pandemi virus corona.

Data dari MarineTraffic.com menunjukkan lonjakan lalu lintas di perairan itu mulai hari Selasa dan hingga Rabu setelah saluran diblokir.

Dikutip Al Jazeera dari sebuah postingan di twitter, kapal tersebut bernama Ever Given, yang disewa perusahaan pelayaran Taiwan Evergreen Marine. Akibatnya lalu lintas pelayaran lumpuh dan membuat antrean hingga 100 kapal di belakangnya.

Sejumlah kapal tunda hari Rabu (24/3) berupaya keras mencoba mendorong penghalang keluar sementara kapal-kapal lain berharap dapat memasuki jalur dan mulai terjadi antrean di Laut Tengah dan Laut Merah.

Namun masih belum jelas kapan rute itu, yang dilalui sekitar 10% arus perdagangan dunia dan jalur pengangkutan minyak sangat penting itu, akan dibuka kembali.

Dilansir dari VOA Indonesia, seorang pejabat memperingatkan itu bisa memakan waktu sedikitnya dua hari. Sementara itu, muncul kekhawatiran kapal-kapal yang tidak beroperasi dapat menjadi sasaran serangan.

Tidak jelas penyebab kapal Ever Given itu terjepit pada Selasa pagi. GAC, perusahaan pelayaran dan logistik global, mengatakan kapal itu mogok, tetapi tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Evergreen Marine Corp., sebuah perusahaan pelayaran besar berbasis di Taiwan yang mengoperasikan kapal tersebut, menjelaskan dalam sebuah pernyataan bahwa Ever Given menghadapi angin kencang ketika memasuki kanal itu dari Laut Merah namun tidak ada peti kemas yang tenggelam.

Seorang pejabat Mesir, yang berbicara kepada kantor berita Associated Press dengan tidak menyebut identitas karena tidak berwenang memberikan pengarahan singkat kepada sejumlah wartawan, juga menyalahkan angin kencang.

Baca juga: Filipina Minta China Segera Tarik Ratusan Kapalnya yang Berlabuh di Whitsun Reef Laut China Selatan

Prakiraan cuaca Mesir menyatakan angin kencang dan badai pasir melanda daerah itu hari Selasa (23/3), dengan kecepatan angin hingga 50 kilometer per jam.

Lantas bagaimana dampaknya bagi Indonesia? Akibatnya, kapal dari Indonesia untuk keperluan ekpsor-impor pun harus ikut mengantre giliran untuk bisa melewati terusan ini dengan ratusan kapal lainnya.

Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno memastikan bahwa ada dampak negatif dari kejadian ini. Sayangnya, dampak itu tidak bisa terhindarkan.

“Ongkosnya naik, tapi kenaikan persentasenya belum tahu, tapi ongkosnya pasti naik, seringnya begitu,” kata Benny, dilansir CNBC Indonesia, Kamis (25/3/21).

Kenaikan ongkos itu karena biaya bahan bakar menjadi lebih besar. Selain itu, semakin lama perjalanan maka banyak biaya lain yang menjadi tanggungan, misalnya untuk awal kapal.

“Di Terusan Suez kan mengenai pengaturan traffic naik sekarang, antreannya juga terlalu panjang. Sehingga traffic-nya diatur artinya nggak bisa bareng kapal-kapal itu, harus antre,” jelas Benny yang juga Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan ini.

Mengenai kapal-kapal Indonesia yang kini tersendat, Benny belum bisa memastikan berapa banyak. Saat ini ia terus berkoordinasi dengan para eksportir yang mengirim komoditas ekspor ke kawasan Eropa dan sekitarnya.Terusan Suez merupakan akses tersingkat untuk menunjang perdagangan Asia dan Eropa.

“Pasti ada, lagi saya cek,” sebut Benny.

Kejadian mandetnya perjalanan kapal di Terusan Suez karena setelah sebuah kapal berbendera Panama tiba-tiba berbelok tak sesuai arah dan menutup jalur pelayaran itu. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*