JoSS, MAGELANG – Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur (BOB), Agus Rochiyardi menjelaskan proyek Borobudur Highland yang merupakan pengembangan Perbukitan Menoreh sudah dibuka untuk investor. Dari 15 slot yang ditawarkan, sudah ada 6 investor yang mengisi.
Dia menjelaskan pada proyek pengembangan pariwisata yang berjarak 12 kilometer ke barat dari Candi Borobudur ini ada ini ada dua jenis tanah. Ada yang dapat diubah dan tidak bisa diubah. Hutan pinus yang ada dengan luas 259 hektar tidak bisa diubah.
Sementara luasan 50 hektare dapat diubah dan dibuka untuk investor masuk, dan telah dibagi dalam dua poligon. Sejumlah syarat pun harus dipenuhi untuk itu, seperti penggantian dua kali lipat lahan hutan yang digunakan, dan itu sudah dipenuhi.
Saat ini Agus mengungkapkan sudah ada sejumlah investor yang berminat untuk mengembangkan. “Sudah ada yang mau masuk, dan masih terbuka. Dengan jumlah itu [investor yang akan masuk] baru sekitar enam lot dari sekitar 15 lot yang terisi, masih banyak yang bisa diisi. Itu ada yang resort, ada hotel,” ujar Agus, dilansir dari harianjogja.com.
Agus menuturkan pembangunan di kawasan tersebut memerlukan infrastruktur dasar, sehingga dibuat public expose format skema Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), untuk pencarian dana guna pembangunan infrastruktur tersebut.
Baca juga: Pemerintah Siapkan Rencana Induk Pariwisata Terpadu Borobudur-Yogyakarta-Prambanan
Infrastruktur dicontohkan oleh Agus seperti jaringan air bersih salah satunya. Total nilainya untuk pembangunan infrastruktur ini dikatakannya mencapai ratusan miliar. Saat ini juga untuk KPBU itu masih terbuka.
Agus menekankan untuk para investor yang masuk ini harus sejalan dengan BOB yang telah memiliki visioning untuk mengembangkan eco tourism, pengembangan budaya dan sport tourism. Visioning tersebut merupakan masukan dari para ahli, yang menilai ketiga hal tersebut paling cocok untuk dikembangkan.
Dia mencontohkan komitmen untuk tidak mengubah atau merusak lingkungan di 259 hektare yang telah ditetapkan itu, seperti saat mengembangkan Glamping De Loano yang tidak melakukan penebangan. Dengan begitu justru menjadi daya tarik tersendiri juga. Selain juga yang telah dibangun saat ini amphitheather dan track downhill.
Dalam pengembangan wilayah ini Agus mengatakan, pihak BOB berkomitmen untuk turut melibatkan masyarakat sekitar, guna menggeliatkan perekonomian masyarakat. Seperti masyarakat di kawasan Purworejo, Kulonprogo, dan Magelang.
Pengembangan kawasan ini juga mendorong quality tourism. Wisata yang memiliki daya saing dan memiliki DNA kearifan lokal. Hal itu yang menjadi penguat, karena saat ini Agus melihat banyak objek wisata yang seakan latah, membuat destinasi wisata yang sebenarnya tidak berdasar kekhasan atau potensi daerah itu.
Quality tourism ini akan mendorong lenght of stay wisatawan dan akhirnya mendorng spending money wisatawan.
“Harapan mampu menggeliatkan perekonomian masyarakat sekitar, PAD Pemkab setempat meningkat. Kemudian berharap masyarakat itu semakin memiliki kualitas dibidang wisata. Adanya pengembangan ini dapat menyelesaikan permasalahan yang ada di Borobudur [pengunjung yang melebihi kapasitas peruntukannya],” ujarnya. (lna)

Leave a Reply