Sejarawan UNDIP Ungkap Perjalanan Panjang Batik Semarang

Ilustrasi (Foto: sekarangtau.wordpress.com)

JoSS, SEMARANG – Batik Semarang ternyata telah menempuh perjalanan sejarah yang cukup panjang serta memiliki ciri khas dan keunikan, sehingga layak dikembangkan dan dicatat sebagai warisan budaya.

Sejarawan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (UNDIP), Prof Dr Dewi Yuliati MA mengatakan bahwa keberadaan Kampung Batik di Kawasan Bubakan atau Jurnatan merupakan indikasi bahwa kerajinan batik sudah tumbuh dan berkembang di Semarang sejak wilayah ini menjadi sebuah kota.

Di sekitar Bubakan yang merupakan pusat pemerintahan Semarang kuno, selain ada Kampung Batik tempat para pengrajin batik tinggal dan berkegiatan, ada Kampung Pedamaran yang merupakan tempat perdagangan damar sebagai bahan pewarna batik, Sayangan yang merupakan sentra pengrajin alat rumah tangga berbahan perunggu, Petudungan yang menjadi tempat pengrajin caping dan lainnya.

“Keberadaan Kampung Batik dan Pedamaran menjadi indikator bahwa industri kerajinan batik sudah mengakar di Semarang,” kata Prof Dewi Yuliati yang sudah melakukan beberapa penelitian sejarah Semarang sejak masa pembentukannya pada pertengah abad ke-16 sampai dengan abad ke-20.

Dilansir dari undip.ac.id, Guru besar Ilmu sejarah dari Prodi Sejarah FIB Undip ini mengungkapkan bahwa informasi tentang Bubakan sebagai pusat pemerintahan Semarang kuno termuat dalam Serat Kandhaning Ringit Purwo naskah KGB No 7, yang menceritakan pada tahun 1476 Ki Pandan Arang I telah menetap di Pulau Tirang. Peristiwa itu ditandai dengan candra sengkala Awak Terus Cahya Jati.

Kemudian Ki Pandan Arang membuka tempat permukiman baru di daerah pegisikan atau pantai, dan menurut cerita tradisi tempat itu diberi nama Bubakan, berasal dari kata “bubak” yang berarti membuka sebidang tanah dan menjadikannya sebagai tempat permukiman.

Mengenai nama tempat di kawasan itu yang disebut Jurnatan, menurut Dewi, juga terkait dengan keberadaannya sebagai pusat pemerintahan.

Baca juga: FPIK UNDIP Genjot Program Sertifikasi Selam Keahlian

Jurnatan diduga menjadi tempat Ki Pandan Arang I menjabat sebagai juru nata (pejabat kerajaan) di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Karena menjadi tempat tinggal sang juru nata, kemudian tempat tersebut dikenal dengan Jurnatan. Kedudukan Kampung Batik menjadi bagian tak terpisahkan dari pusat kekuasaan, yaitu sebagai penyedia kebutuhan bahan sandang bagi para penguasa, pegawai pemerintah, serta masyarakat kota.

Batik Semarang, katanya, memang tidak memiliki motif yang baku. Namun produknya bisa dikenali dari pemakaian motif yang naturalis dan realistik seperti burung merak yang melambangkan keindahan dan perlindungan keluarga, bangau yang menjadi simbol panen dan kemakmuran, ayam jago sebagai simbol kejantanan, dan kupu-kupu yang melambangkan keindahan, kesuburan, dan harapan mencapai kedudukan yang tinggi.

Motif lainnya adalah ikan sebagai simbol kemaritiman, daun asam yang diyakini sebagai awal penamaan Semarang, pohon bambu sebagai simbol kemudahan hidup, bukit sebagai simbol kekotaan Semarang, dan laut simbol kemaritiman.

Ciri-ciri lain dari batik semarang adalah pemakaian warna yang cerah. Kultur pesisir yang terus terang dimanifestasikan dalam pilihan warna terang seperti merah, oranye, ungu, dan biru. “Warna cerah menjadi ciri khas batik semarang yang mudah dikenali,”ungkapnya, Selasa (16/3/2021).

Masa kejayaan batik Semarang terjadi awal abad ke-20, yang dapat dilihat dari banyaknya penduduk pribumi yang mengandalkan mata pencaharian mereka di sektor industri kerajinan batik. Hal itu tercatat dalam laporan pemerintah kolonial Belanda tentang keberadaan industri di berbagai Karesidenan di Jawa.

Pada rentang tahun 1919-1925, jumlah usaha dalam sektor kerajinan batik di Semarang berkembang dalam jumlah unit usaha dan tenaga kerjanya. Dalam Catatan Koloniaal Verslag pada tahun 1919 di Semarang ada 25 industri batik dengan 58 tenaga terampil dan 176 pekerja kasar, sementara di tahun 1925 jumlah industrinya ada 107 perusahaan dengan 491 tenaga terampil dan 317 tenaga kasar.

Perkembangan itu terkait dengan Perang Dunia I yang membuat impor tekstil dari India, Belanda, dan Inggris terhenti. Kebutuhan sandang harus dipenuhi produk lokal, dan batik menjadi pilihannya. Namun, masuknya Jepang pada  tahun 1943 merusak semuanya, Kampung Batik menjadi salah satu sasaran pembakaran.

Batik Semarangan bangkit lagi dengan dilakukannya pelatihan di tahun 2006 yang diinisiasi oleh para peneliti dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Undip dan didukung pemerintah Kota Semarang. Masa awal kepemimpinan Walikota Hendrar Prihardi kembali mendorong kebangkitan batik Semarang sebagai identitas budaya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*