Korban Kekerasan Junta Militer Labih dri 500 Jiwa, PBB Gelar Pertemuan Tertutup

Para pengunjuk rasa lari saat demonstrasi menentang kudeta militer di kota Thaketa Yangon pada 19 Maret 2021. (Foto AFP/dailysabah.com)

JoSS, MYANMAR – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan menggelar pertemuan secara tertutup membahas situasi di Myanmar Rabu (31/3/2021) setelah korban jiwa terus berjatuhan.

Berdasarkan catatan Lembaga Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), per Senin (29/3/2021) jumlah orang yang meninggal sebanyak 510, dan 2.574 ditahan militer.

Melansir AFP, salah seorang diplomatik menyebutkan Inggris telah menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB mengenai situasi di negara yang tengah dilanda kudeta, pada hari Senin (29/3/2021).

Namun belum diketahui apakah Dewan Keamanan PBB akan menyetujui deklarasi baru di pertemuan akhir itu, sebab membutuhkan suara dari para anggota termasuk Rusia dan China.

Dilansir dari CNNIndonesia, seperti diketahui Rusia dan China menolak mengecam  kudeta yang dilakukan junta militer Myanmar.

Sebelumnya, pada 10 Maret, Dewan Keamanan PBB untuk pertama kalinya mengeluarkan deklarasi mengecam pasukan keamanan Myanmar yang menggunakan kekerasan menghadapi para pengunjuk rasa.

Baca juga: Terdesak Sanksi AS dan Uni Eropa, Junta Militer Sebut Demonstran Berlaku Anarkis

Dewan Keamanan tak akan setuju soal penyebutan “kudeta” atau kemungkinan sanksi internasional jika junta militer terus melakukan serangan kepada warga sipil. Hal tersebut lantaran adanya penentangan dari China dan Rusia, termasuk anggota dewan Asia lain seperti India dan Vietnam.

Seiring gejolak aksi menentang kudeta yang terus berlangsung, tindak kekerasan militer juga tak terbendung.

Menurut laporan, aparat keamanan Myanmar tega menembaki massa yang melayat persemayaman jenazah seorang pedemo yang tewas di Bago, dekat Yangon, pada Minggu (28/3/2021) kemarin.

Dilansir Reuters, Senin (29/3/2021), menurut keterangan tiga saksi, peristiwa itu terjadi saat sejumlah orang menghadiri persemayaman jenazah seorang mahasiswa, Thae Maung Maung (20), yang menjadi korban meninggal dalam unjuk rasa.

Dua bulan kudeta jumlah korban tewas terus bertambah, jumlah orang yang meninggal sebanyak 510, dan 2.574 ditahan militer.

Penolakan kudeta tak hanya dari warga sipil, kelompok etnis bersenjata dan milisi lainnya turut melawan junta militer.

Salah satunya Tentara Arakan yang menyatakan diri bergabung dengan sipil. Ibu-ibu hingga pelajar di sebuah desa juga mulai belajar angkat senjata untuk melawan kekejaman militer. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*