Gunakan Teknologi Imersif, Wisatawan Museum Kota Lama Seolah Masuk Lorong Waktu Semarang Tempo Dulu

Museum Kota Lama Semarang (Foto: Foto: youtube hendrar prihadi)

JoSS, SEMARANG – Kota Semarang bakal memiliki museum berteknologi canggih yang akan membawa pengunjung seolah masuk ke lorong waktu tempo dulu. Museum Kota Lama Semarang bakal dilengkapi teknologi imersif, pertama di Indonesia.

Teknologi imersif merupakan teknologi yang mengaburkan batasan antara dunia nyata dengan dunia digital atau dunia simulasi, sehingga penggunanya bisa merasakan suasana yang mirip dengan dunia nyata. Dengan penerapan teknologi ini, Museum Kota Lama akan menjadi museum pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi Imersif.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi melalui akun YouTube nya berharap  museum yang berada di Bundaran Bubakan Kota Semarang itu, bisa memberikan pengalaman berbeda pada setiap pengunjungnya.

Dia menuturkan museum tersebut akan menggunakan bangunan yang telah didirikan oleh Kementerian PUPR di bundaran Bubakan, Kota Semarang. Nantinya, Disbudpar (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) yang nanti akan mendesain interior museumnya.

“Saat ini ada dalam tahap penyempurnaan konsep pengaplikasian teknologi, semoga prosesnya lancar,” katanya, di media sosial pribadinya @HendrarPrihadi.

Dia menjelaskan pembangunan museum Kota Lama bagian dari proyek penguatan sektor pariwisata di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah sepanjang tahun 2021.

Baca juga: Bus Trans Jateng Buka Koridor Aglomerasi Kedungsepur, Dimulai Rute Semarang-Grobogan

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, pengunjung seolah-olah berada di masa lalu, masuk lorong waktu, menikmati kondisi saat itu. Misal, suasana di Kali Semarang dan lainnya. Pengunjung seolah berada di sana menikmati aktivitas perdagangan. Kemudian, berkeliling Kota Lama.

“Jadi, bercerita narasi Kota Semarang tapi dikemas lebih menarik,” jelas Iin.

Dia menjelaskan, konsep utama museum di bundaran Bubakan yakni mengenai sejarah Kota Semarang. Pihaknya akan memberikan sajian sebagai pembelajaran sejarah dengan metode yang menarik, sehingga saat masuk museum, pengunjung dapat merasakan ambience atau kondisi Semarang tempo dulu.

“Untuk saat ini kata masih dalam tahap penyiapan sejumlah tekhnologi yang akan diaplikasikan. Untuk set ruang museum juga masih digodok, sembari menggali narasi yang kuat tentang sejarah Kota Semarang,” tambahnya.

Iin juga menyebutkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang terus berkomunikasi dengan Balai Arkeologi Yogyakarta, guna menggali narasi yang kuat. Tak hanya mempersiapkan desain di dalam museum, Disbudpar Kota Semarang bersama dinas terkait mempersiapkan manajemen lalu lintas sekitar museum.

Hal ini mengingat Museum Bubakan berada tepat di bundaran. Jika tidak ada rekayasa lalu lintas tentu dapat menimbulkan kemacetan. Tersedianya lahan parkir juga menjadi salah satu hal yang dipikirkan Iin sebelum museum tersebut dibuka untuk umum.

“Tempat parkir sudah ada pembicaraan tapi perlu finalisasi. Akses ke museum juga kami pikirkan. Nanti ada satu ruas jalan yang dibuat taman dari tempat parkir menuju museum,” ujar dia. Dia menargetkan, museum tersebut bisa dinikmati masyarakat pada pertengahan tahun 2021. Diharapkan, kehadiran museum dapat menambah destinasi baru di kawasan Kota Lama Semarang. “Target kami Agustus sudah bisa dinikmati masyarakat,” ujarnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*