Miliarder Jack Ma Dikabarkan Menghilang Setelah Mengkritik Kebijakan Pemerintah China

Jack Ma | Foto: entrepreneur.com

JoSS, BEIJING – Miliarder China, Jack Ma dikabarkan menghilang, spekulasi tersebut mencuat setelah pebinis tersohor itu tidak muncul di hadapan publik selama hampir dua bulan. Salah satu orang terkaya Cina, ini menghilang setelah mengkritik kebijakan Pemerintah China secara terbuka dalam sebuah pidato.

Diketahui bahwa kerajaan bisnis Jack Ma, Ant Group, tengah dipantau oleh Beijing, terutama setelah Jack Ma menyampaikan pidato kontroversialnya di Shanghai, 24 Oktober 2020. Saat itu, Jack Ma yang berusia 56 tahun mengkritik sistem regulasi Cina karena menghambat inovasi dan menyamakan aturan perbankan global dengan klub nenek moyang.

“Sistem keuangan saat ini adalah warisan dari Era Industri. Kita harus menyiapkan generasi baru dan generasi muda. Kita harus mereformasi sistem saat ini,” ucap Jack Ma kala itu, melansir Yahoo.

Lebih dari seminggu kemudian, IPO Ant yang telah mendapat lampu hijau dari badan pengawas sekuritas Cina, ditangguhkan. Investor veteran Amerika Serikat, Mark Mobius mengatakan langkah itu dirancang untuk membatasi lembaga keuangan menjadi terlalu besar.

Baca juga: Digaji Rp184.000/Bulan, PNS di Venezuela Mengundurkan Diri Masal

“Saya yakin pemerintah Cina turun tangan karena mereka menyadari bahwa mereka harus mengatur perusahaan-perusahaan ini, sehingga mereka tidak… menjadi terlalu besar,” kata Mark Mobius kepada CNBC.

Jack Ma yang merupakan pendiri Alibaba juga absen di episode terakhir ajang pencarian bakatnya, Africa’s Business Heroes, yang memberikan peluang bagi wirausahawan Afrika untuk bersaing memperebutkan hadiah total 1,5 juta USD atau sekitar hampir 2,1 miliar Rupiah.

Jack Ma, 56 tahun, tidak terlihat di publik sejak Oktober 2020, menurut The Sun, 3 Januari 2021. Jack Ma memperoleh kekayaannya setelah mendirikan Alibaba, yang dijuluki Amazon Asia, dan pernah menjadi tokoh favorit rezim komunis Cina.

Namun, mantan guru bahasa Inggris itu tiba-tiba diganti sebagai juri di final Africa’s Business Heroes, sebuah kontes TV bergaya Den Dragons untuk wirausahawan pemula.

Fotonya kemudian dihapus dari halaman web panel juri dan dia kemudian dikeluarkan dari video promosi. Ayah dari tiga anak itu sebelumnya menulis di Twitter bahwa dia “tidak sabar” untuk bertemu dengan semua kontestan.

Baca juga: Setujui Rekomendasi WHO, PBB Restui Penggunaan Ganja Untuk Medis

“Karena konflik jadwal, Tuan Ma tidak dapat lagi menjadi bagian dari panel juri terakhir Pahlawan Bisnis Afrika awal tahun ini,” kata seorang juru bicara Alibaba, dikutip dari bisnis.com.

Final berlangsung hanya beberapa minggu setelah Jack Ma berpidato yang mengecam regulator China dan bank-bank milik negara. Bulan lalu, otoritas China tiba-tiba mengumumkan penyelidikan antimonopoli terhadap perusahaannya.

Regulator China dan pejabat Partai Komunis telah mulai mengekang bisnis Jack Ma setelah mengkritik sistem peraturan negara pada Oktober karena menghambat inovasi, Reuters melaporkan. Jack dikenal karena menyumbang ke berbagai badan amal global.

Selama pandemi virus corona, dia telah menyumbangkan puluhan juta masker wajah di seluruh dunia. Dan bahkan, ketika ketegangan antara AS dan China semakin memanas, Jack Ma menyumbangkan 2.000 ventilator ke New York bersama rekannya Joe Tsai, yang diapresiasi Donald Trump, Daily Mail melaporkan.

Baca juga: Jepang Gratiskan Vaksinasi Covid-19 Bagi Seluruh Warganya

Namun, dalam beberapa pekan terakhir tidak ada aktivitas di akun Twitter-nya, yang biasanya memuat beberapa kicauan dalam sehari.

China memiliki sejarah membungkam miliarder pengkritik. Pada Maret, seorang taipan properti, Ren Zhiqiang, menghilang setelah dia menyebut Presiden Xi Jinping sebagai ‘badut’ karena penanganannya terhadap krisis virus corona.

Teman Ren Zhiqiang mengatakan bahwa mereka tidak bisa menghubunginya dan 6 bulan kemudian dia dijatuhi hukuman 18 tahun penjara setelah dia “secara sukarela dan jujur mengaku atas berbagai kejahatan korupsi.”

Xian Jianhua, seorang pemodal miliarder, ditangkap dari sebuah hotel di Hong Kong pada 2017 dan dibawa ke China daratan. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*