
JoSS, SOLO – Pakar Arsitektur Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta memberikan jawaban atas dugaan arsitektur Gedung Rektorat UNS sama dengan makam Soeharto di Astana Giribangun Karanganyar. Jawaban dan penjelasan ini ditunggu banyak orang yang selama ini hanya bisa mnduga-duga bahwa kesamaan arsitektur juga sejalan dengan nama perguruan tinggi yang diambil dari surat perintah yang menjadi awal kekuasaan Orde Baru.
Gedung Rektorat Dokter Prakosa diakui merupakan bangunan yang sangat bersejarah bagi berdirinya UNS. Gedung tersebut dibangun pada 11 Maret 1978, difungsikan sebagai Kantor Pusat UNS, dimana Rektor dan para wakil rektor berkantor. Gedung ini juga menjadi pusat administrasi, dan menjadi ikon sekaligus tampak depan kampus yang ada di tepi Bengawan Solo ini.
Namun benarkah gedung tersebut dibuat sama dengan kompleks pemakaman milik Keluarga Soeharto? Ataukah itu satu paket dalam konteks pembangunannya? Pakar Arsitektur Jawa dari UNS, Dr Titis Srimuda Pitana dari Fakultas Teknik UNS, memberikan jawabannya secara tuntas.
Menurut Titis Srimuda, kedua bangunan itu memang menggunakan konsep sakralitas arsitektur bangunan Jawa yang dengan bentuk tajug. Sakralitas yang dimaksud Titis dapat dilihat dari atap Gedung Rektorat dr. Prakosa dan makam Soeharto di Astana Giribangun yang sama-sama menggunakan bentuk tajug. “Bukan sama, tapi juga menggunakan konsep sakralitas (yang sama). Wujudnya beda bentuknya sama, bentuk itu ada pada tataran ide tapi perwujudan dalam tataran fisik,” ujar Titis seperti dikutip dari laman uns.ac.id, Rabu (6/1/2021).
Konsep sakralitas dalam arsitektur bangunan Jawa yang berujud Tajug merupakan atap berbentuk piramidal atau limas bujur sangkar dengan dasar persegi empat sama sisi yang di tengahnya terdapat satu puncak. Bentuk atap ini lazimnya ditemui pada atap sejumlah bangunan penting di Indonesia.
Baca juga: UNS Fokus Tingkatkan Reputasi di Pemeringkatan Internasional
Secara tegas Titis menampik adanya ada unsur kesengajaan dalam pembangunan Gedung Rektorat dr Prakosa agar sama dengan makam Soeharto di Astana Giribangun. Dia juga memastikan tidak ada keterlibatan istri Soeharto, mendiang Ibu Tien, yang disebut-sebut ikut menentukan pemilihan konsep arsitektur Gedung Rektorat UNS.
Menurut dia, Gedung Rektorat UNS di Kentingan Solo menerapkan konsep pajupat. Pajupat atau yang disebut papat kiblat lima pancer menempatkan gedung yang diberi nama dr. Prakosa (Rektor Kedua UNS) dikelilingi oleh bangunan-bangunan lain. “Papat kiblat itu 4 penjuru mata angin. Kalau kita lihat konsep tata ruang yang paling tengahnya itu tempat bertemunya 4 kekuatan dari 4 penjuru mata angin yang menyatu di tengah,” ungkapnya.

Dengan pola bangunan pusat dikelilingi bangunan lain, filosofinya adalah perwujudan keseimbangan, keselarasan dan harmoni tata ruang. Dijelaskan juga bahwa secara detail filosofi yang terkandung dalam konsep bangunan Jawa tidak dimulai dari bawah (pondasi), tapi dari pamidhangan yang berarti pundak Karena itu seorang pimpinan harus memiliki kekuatan untuk memikul beban berat yang disebut tanggung jawab.
Kekuatan pamidhangan Gedung Rektorat UNS sendiri terdapat pada blandar pemanjang dan blandar pengeret yang menopang tumpang sari. Fungsi dari tumpang sari adalah sebagai penumpu bagian brunjung hingga ke pucuk bangunan. “Kemudian, disatukan sampai ke puncak sampai di atas yang pucuknya atau dalam bahasa Jawa itu molo atau polo atau otak. Sehingga, seberat apapun tugas pemimpin tetap harus mampu menggunakan akal sehatnya,” jelasnya. (awo)

Leave a Reply