JoSS, JOGJA – Kabar baik, tingkat kesembuhan pasien Covid-19 DIY terus mengalami peningkatan pada Senin (5/10/2020), tercatat 77 pasien dinyatakan sembuh meski masih terdapat tambahan 22 kasus positif. Pemerintah terus melakukan upaya pencehagan mulai dari perpanjangan masa tanggap bencana hingga mengistirahatkan PKL di Malioboro yang berusia lanjut.
Juru bicara gugus penanganan Covid-19 DIY, Berty Murtiningsih mengatakan tambahan 77 kesembuhan hari ini membuat angka sembuh pasien DIY kumulatif mencapai 2123 orang. Mayoritas pasien sembuh diketahui berasal dari Kabupaten Sleman yakni 68 orang ditambah dari Kota Yogyakarta 5 dan Bantul 4 orang.
“Hari ini DIY menguji 457 sample swab dari 436 orang. Untuk keseluruhan sample, hingga hari ini total 75.187 dari 61.059 sudah dilakukan pengujian,” jelasnya, Senin (5/10).
Sebelumnya dalam Keputusan Gubernur DIY nomor 286/KEP/2020 yang menyebut bahwa masa tanggap darurat masih berlaku hingga 31 Oktober 2020.
“Ya diperpanjang. Belum selesai, masih fluktuatif seperti ini. Masih diperpanjang, kita belum tahu kapan selesai,” ungkap Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, belum lama ini.
Status tanggap darurat tersebut, seperti yang telah ditetapkan dalam Keputusan Gubernur DIY dapat diperpanjang sesuai dengan kondisi dan perkembangan yang terjadi.
Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih menjelaskan bahwa pihaknya beserta Dinas Kesehatan kabupaten/daerah giat melakukan skrining. Mulai untuk lingkungan pemerintahan, perusahaan, pendidikan, dan sebagainya.
Baca juga: Dosen UGM Kembangkan Bilik Swab, Cek Covid-19 Lebih Efektif Tanpa APD
Sementara itu, berbagai strategi pencegahan penyebaran Covid-19 di Malioboro terus diterapkan. Setelah pemberlakuan zonasi, penerapan kode QR hingga pemisahan alur pejalan pedestrian, pedagang lansia pun diistirahatkan.
Kepala UPT Malioboro, Ekwanto menyebutkan bahwa pihaknya telah mengimbau kepada masing-masing komunitas untuk meminta pedagang lansia untuk sementara tidak berjualan. Bahkan Ekwanto mengklaim, imbauan tersebut tidak diberikan ssatu dua kali, tapi beberapa kali dan juga melalui forum-forum kecil. “Melalui forum-forum kecil kalau ada yang sepuh nyuwun sewu untuk diedukasi jangan di Malioboro dulu, karena rentan penularan Covid,” terang Ekwanto Senin (5/10/2020).
Selain itu Ekwanto berpendapat jika para lansia mungkin memiliki imun yang lebih rendah dari yang muda. “Rawan terhadap OTG yang kelihatan enggak sakit tapi carier, kami khawatirkan di situ, jadi lansia melalui komunitas masing-masing dari sekup untukmemberikan pengertian, tidak semata-mata melarang,” tegasnya.
Meski sebenarnya telah diimbaukan sejak kembali lama, diakui Ekwanto tingkat kesadaran PKL lansia meningkat pasca adanya satu PKL Malioboro yang notabenenya lansia meninggal dunia. “Kalau beberapa waktu yang lalu sebelum ada yang meninggal banyak banget itu yang sepuh-sepuh, sekarang sudah berkurang banyak,” ujarnya.
“Usia 50-60 tahun sudah kita imbau untuk tinggal di rumah, yang di Malioboro mungkin bisa keluarganya, anaknya dan sebagainya,” tambah Ekwanto. Menurut catatan Ekwanto, persentase PKL lansia tidak banyak sekitar 10 persen dari total 2500 PKL Malioboro. “Penjual-penjual yang senior itu biasanya,” pungkasnya dikutip dari Harianjogja.com. (lna)

Leave a Reply