Sudah Setahun Lebih, Api di Bonagung Tetap Menyala Dalam Sebuah Rantang

Ilustrasi

JoSS, SRAGEN – Beberapa hari terakhir warga Jawa Tengah dikejutkan dengan Api abadi Mrapen di Kecamatan Godong, Grobokan yang padam sejak 25 September lalu, ini pertama kalinya terjadi sepanjang sejarah.

Sementara itu, pada 18 Agustus 2019 lalu, warga di Sragen dihebohkan dengan temuan semburan api di Dukuh Banyurip, Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, yang justru menyala hingga kini, meski sudah lebih dari satu tahun.

Dilansir dari Solopos.com, kobaran api terlihat jelas dari cerobong besi alakadarnya yang dibuat oleh warga sekitar. Bagian atas cerobong besi itu terdapat sebuah rantang yang dipakai untuk melindungi api dari tiupan angin.

Cerobong tempat keluar api itu berada dalam sebuah gubuk mungil berukuran 1,5 x 1,5 meter. Gubuk yang dibangun dengan fondasi beton itu bertujuan melindungi api dari guyuran air hujan. Kerangka gubuk itu terbuat dari batang kayu dan bambu yang dipotong ala kadarnya.

Dinding gubuk itu berupa triplek bekas dan anyaman bambu. Sementara bagian atap berupa seng bergelombang. Gubuk itu dibangun warga Dukuh Banyurip, Desa Kalikobok, yang berbatasan langsung dengan Desa Bonagung.

“Dulu, nyala api memang sempat padam karena permukaan tanah dipenuhi genangan air hujan. Tapi, setelah itu api nyala kembali. Sampai sekarang, api ini terus menyala tanpa mati,” ujar Sarwoko, warga Dukuh Sendangwuni, Desa Bonagung, Kecamatan Tanon.

Semburan api di Desa Bonagung itu muncul dari permukaan tanah milik warga bernama Rebo. Kemunculan api tersebut sempat menghebohkan warga Sragen dan sekitarnya.

Baca juga: Menyalakan Kembali Api Abadi Mrapen Terus Diupayakan

Pada saat itu, keberadaan semburan api itu sempat menjadi daya tarik pengunjung. Karang taruna Dukuh Banyurip, Desa Kalikobok, kemudian berinisiatif menata lokasi ditemukannya semburan api tersebut.

Selain membuka jalan setapak menuju lokasi, mereka juga membuat gubuk untuk melindungi api di Desa Bonagung itu dari paparan hujan.

Banyaknya pengunjung yang datang membuat warga sekitar mendirikan warung tidak jauh dari lokasi. Para pedagang kaki lima (PKL) pun berdatangan untuk menjajakkan aneka makanan dan minuman.

Namun, seiring berjalannya waktu, pengunjung objek wisata dadakan api Bonagung Sragen pun menurun. Belum adanya dukungan dana dari desa maupun dari pemerintah daerah membuat objek wisata belum dikelola dengan baik oleh warga.

Padahal, dari hasil kotak infak yang dipasang di lokasi, warga bisa mengumpulkan uang untuk merenovasi Musala Al Ikhlas.

“Saat api Mrapen padam, api di sini justru menunjukkan keabadiannya. Bila dikelola dengan baik dan didukung oleh anggaran dari dana desa, api ini punya potensi yang sama dengan Mrapen. Tentunya itu tergantung kebijakan dari desa dan Pemkab Sragen,” papar Sarwoko.

Semburan api itu ditemukan di lokasi pembangunan sumur dalam di lahan milik Rebo. Meski kedalaman sudah mencapai sekitar 50 meter, tidak ada tanda-tanda sumber air di lokasi tersebut. Karena tidak ada sumber air, penggalian sumur itu akhirnya dihentikan.

Lubang sumur itu akhirnya ditutup lagi. Namun, keanehan baru muncul sekitar dua tahun kemudian, yakni munculnya bara api.

“Pada saat itu, pemilik lahan bermaksud istirahat dengan duduk di atas tanah bekas sumur yang pernah digali dua tahun sebelumnya. Saat itu dia merasakan suhu panas dari tanah. Setelah digali, ternyata ada bongkahan tanah yang sudah menjadi bara api. Bara api itu kemudian menyala jadi api yang tak kunjung padam sampai sekarang,” papar Widodo, warga sekitar. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*