
JoSS, SEMARANG – Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam meminta masyarakat waspada gejala happy hypoxia yang dialami pasien Covid-19. Apalagi, gejala happy hypoxia dialami pasien Covid-19 yang meninggal dunia di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
“Gejala ini cukup berbahaya kalau tidak diawasi. Jadi perlu diwaspadai karena pasien tidak merasakan sakit atau gejala apa-apa tapi tiba-tiba bisa sesak napas,” jelas Abdul Hakam dikutip dari Kompas.com.
Kendati belum menemukan laporan terkait pasien dengan gejala happy hipoxia di Semarang tapi pihaknya menekankan pentingnya mencegah penularan virus. “Yang terpenting mencegahnya dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan setiap beraktivitas di luar rumah,” ujarnya.
Sesak napas memang menjadi salah satu gejala umum Covid-19. Namun, sebuah studi menemukan, pasien yang dinyatakan positif Covid-19 bisa mengalami happy hypoxia syndrome. Pada kondisi ini, seseorang tak mengalami kesulitan bernapas meski kadar oksigen dalam tubuh sangat rendah.
“Kondisi ini sangat membingungkan bagi dokter karena sangat bertentangan dengan konsep biologi dasar,” ujar penulis studi penelitian Martin J Tobin yang merupakan dokter spesialis paru, mengutip Science Direct.
Baca juga: Waspada, Ada 6 Gejala Baru Covid-19
Dalam beberapa kasus, lanjut Tobin, pasien malah terasa nyaman, tidak terganggu sama sekali, bahkan bisa beraktivitas. Padahal, dalam tingkatan yang parah, kondisi tersebut bisa mengancam nyawa.
Studi yang diterbitkan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine ini melibatkan 16 pasien Covid-19 dengan kadar oksigen yang sangat rendah, tapi tanpa sesak napas.
“Saat kadar oksigen turun, otak [pasien Covid-19] tidak merespons sampai oksigen turun ke tingkat yang sangat rendah, di mana pasien biasanya akan merasakan sesak napas,” kata Tobin, dilansir dari CNNIndonesia.
Happy hypoxia syndrome dikenal juga dengan istilah ‘silent hypoxemia’. Hipoksemia sendiri didefinisikan sebagai penurunan kadar oksigen dalam darah. Saat oksigen mulai berkurang, seseorang umumnya akan mengalami sesak napas. Pada tingkat terendah, kondisi tersebut bisa mengancam nyawa.
Covid-19 merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Pada kasus yang parah, infeksi ini bisa mengurangi jumlah oksigen yang dapat diserap paru-paru. Tingkat oksigen dalam darah yang sangat rendah ditemukan pada beberapa pasien Covid-19.
Mengutip Healthline, hipoksemia umumnya dapat disebabkan oleh berbagai kondisi pernapasan seperti asma, pneumonia, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Hipoksemia juga terkadang dapat terjadi pada bayi baru lahir dengan kelainan atau penyakit jantung bawaan. Bayi prematur juga rentan mengalami hipoksemia.
Orang yang mengalami hipoksemia umumnya akan menunjukkan beberapa gejala seperti sesak napas, batuk atau mengi, sakit kepala, detak jantung cepat, merasa bingung, serta warna biru pada kulit, bibir, dan kuku. (lna)

Leave a Reply