8 Tahun Lawan Tentara Pemberontak, Presiden Mali Ibrahim Boubacar Akhirnya Mundur

Ibrahim Boubacar | Foto: thestatesman.com

JoSS, MALI – Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita mengumumkan mengundurkan diri pada Rabu pagi (19/8), sehari setelah pemberontak melancarkan kudeta. Sebelumnya para tentara pemberontak menahan Keita dan Perdana Menteri Boubou Cisse, Selasa (18/8).

Dalam pidatonya di televisi pemerintah, pria 75 tahun itu juga mengatakan bahwa pemerintah dan parlemen Mali akan dibubarkan. Dia mengaku mengundurkan diri untuk menghindari pertumpahan darah.

“Pada momen yang tepat ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada rakyat Mali atas dukungan mereka selama tahun-tahun yang panjang ini serta kehangatan kasih sayangnya, dan saya menyampaikan keputusan untuk melepaskan jabatan,” kata Keita seperti dikutip dari AFP.

Sebelumnya salah satu pemimpin pemberontak di Mali mengaku telah menangkap Presiden Ibrahim Boubacar Keita dan Perdana Menteri Boubou Cisse. Pasangan pemimpin negara Mali itu “ditahan” di kediaman Keita di ibu kota Bamako.

“Kami dapat memberitahu kalian bahwa presiden dan perdana menteri berada di bawah kendali kami,” kata pemimpin yang tak mau disebutkan namanya itu kepada AFP.

Dia menambahkan bahwa pasangan pemimpin negara Mali itu telah “ditahan” di kediaman Keita di ibu kota Bamako. Sebelumnya, tentara melancarkan pemberontakan dari kota Kati.

Baca juga: Dianggap Racun Ideologi Kapitalisme, Warga Korut Dilarang Punya Hewan Peliharaan

Pejabat militer lainnya, yang juga enggan menyebutkan identitas, mengatakan presiden dan perdana menteri berada di kendaraan lapis baja dalam perjalanan ke Kati.

Mali telah melawan pemberontak sejak 2012. Bahkan pada kala itu, negara di Afrika tersebut kehilangan wilayah di bagian utara yang dikuasai oleh pemberontak yang merupakan para jihadis.

Sebagian para pemberontak itu kemudian berhasil diusir dalam operasi militer yang dipimpin Prancis dan disokong intervensi dari negara lainnya.

Meski sempat ada kesepakatan damai pada 2015, kekerasan di negara tersebut terus berlanjut. Bahkan, kekerasan menyebar ke selatan dan ke negara-negara tetangga.

Sementara itu, kabar penahanan Presiden dan Perdana Menteri Mali ini telah diterima oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Macron kemudian dilaporkan AFP langsung membahas kejadian tersebut dengan para pemimpin Afrika barat lainnya.

Istana Kepresidenan Prancis mengatakan Macron mendukung upaya mediasi oleh blok regional ECOWAS terkait hal ini.

“Presiden membahas situasi yang sedang berlangsung dengan Presiden Ibrahim Boubacar Keita dan para pemimpin Niger, Pantai Gading, dan Senegal,” kata pernyataan Istana Elysse. “Selain itu, ia [Macron] juga mengutuk upaya pemberontakan yang sedang berlangsung,” lanjutnya, dilansir dari CNNIndonesia. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*