
JoSS, JAKARTA – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan ini masih melanjutkan tren positif beberapa hari terakhir. Rupiah Jumat sore ditutup menguat 135 poin atau 0,83 persen menjadi Rp16.170 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.305 per dolar AS.
“Bank Indonesia terus melakukan koordinasi dengan para pengusaha untuk bersama-sama melakukan intervensi. Intervensi Bank Indonesia melalui pasar valas dan obligasi di perdagangan DNDF, sedangkan pengusaha dengan cara menjual dolar AS yang masih tersimpan, sehingga kepanikan pasar sedikit berkurang,” kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Jumat.
Dilansir dari Antara, dari sisi eksternal, Senat AS menyetujui paket stimulus 2 triliun dolar AS untuk mengimbangi dampak ekonomi dari pandemi COVID-19. DPR AS diperkirakan juga akan langsung menyetujui paket stimulus tersebut.
Di sisi lain, negara-negara anggota G-20 dalam pertemuan di minggu ini berjanji akan menggelontorkan dana sebesar 5 triliun dolar AS yanf bertujuan untuk menggeliatkan roda ekonomi akibat dampak dari wabah COVID-19 sehingga ekonomi bisa stabil kembali.
Baca juga: BI Siapkan Uang Tunai Baru Rp450 Triliun Untuk 6 Bulan ke Depan
Rupiah pada pagi hari dibuka menguat di posisi Rp16.105 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp16.070 per dolar AS hingga Rp16.235 per dolar AS. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Jumat menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp16.230 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp16.328 per dolar AS.
Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat pada perdagangan Kamis pekan ini. Rupiah menguat dan menjauh dari level 17.000 per dolar AS.
Mengutip Bloomberg, Kamis (26/3) rupiah dibuka di angka 16.205 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka 16.500 per dolar AS. Pada pukul 11.11 WIB, rupiah terus menguat sentuh 16.347 per dolar AS.
Sementara itu, pasar keuangan masih mengkhawatirkan penyebaran wabah COVID-19 yang bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi global, yang bisa menekan kembali pergerakan harga aset berisiko hari ini. (lna)

Leave a Reply