

Selama berpindah lokasi pergelaran, Ngesti Pandawa memiliki para rol (pemain andalan/watak) dan menjadi daya tarik penonton yang menjadikanya sebagai sri panggung (primadona). Para primadona saat itu sebut saja Sundari (alm), Mbak Lilik (alm), Suwarni (alm) Sri Rejeki, Talok Kasinem (pemeran Arjuna), atau Sriyati.
Di jajaran pemain rol di Ngesti, sebetulnya empat orang yang memainkan Punakawan di masa lalu, semuanya adalah para pemain watak. Mereka adalah Dharmo Surono (Semar), Marno (Gareng), Djojo Suhijo (Petruk), dan Senen (Bagog). Bahkan, pendirinya Ngesti, Sastro Sabdo adalah pemeran tokoh Petruk yang sangat mumpuni.
Tidak mudah mencapai tataran pemain dengan kategori rol di dalam dunia wayang orang. Menurut Sumarbagyo peran Gareng pada generasi kedua, antuk mencapai tataran rol yang bersangkutan harus menguasai cerita, menguasai sanggit (rangkaian lakon), mampu nembang dan tentu saja mampu beksan (menari).
Untuk memenuhi elemen-elemen itu, harus melalui proses pengalaman dan jam terbang tinggi. Tapi faktanya untuk generasi ketiga saat ini belum terlihat munculnya permai rol, kecuali hanya segelintir nama seperti Wiradyo dan Sunarno.
Membicarakan pemain watak, Sunarno dan Wiradiyo, dua pemain wayang senior menceritakan, pada dasawarsa 80-an Ngesti Pandawa diakui banyak bertabur primadona sebagai bintang panggung. Banyak pemain wanita watak dengan bercirikan memiliki kemampuan memainkan berbagai karakter wayang, misalnya dengan ketrampilannya membawakan berbagai jenis suara untuk mengelola antawacana agar bisa lebih menjiwai perannya.
Kemampuan seorang pemain untuk mengelola antawecana ini berbeda-beda. Seorang rol dengan jam terbang tinggi mestinya bisa melakukan dua jenis suara sekaligus yaitu lanyap (nada suara tinggi, keras dan kemayu). Sedangkan luruh (nada suara merendah, mengalah) ini untuk dua karakter tokoh yang berbeda. Di Ngesti Pandawa beberapa pemain telah sampai pada tataran itu, yaitu menemukan karakter tertentu hanya dengan melihat kemampuan lanyap dan luruh tadi.
Pemain rol Ngesti Pandawa seperti Sumarwiwik (masih aktif sampai kini) sangat pas untuk tokoh Srikandi atau Mustakaweni yang kemayu dengan bersuara lanyap. Ini berbeda dengan Dewi Wulandari (bukan anggota Ngesti Pandawa, sementara cuti karena meneruskan studi pascasarjana) yang hanya pas untuk tokoh-tokoh seperti Dewi Sumbadra atau Dewi Shinta yang bersuara luruh. Sedangkan Abela Mayarani yang merupakan anak Wiradiyo bisa disebut mampu membawakan dua karakter suara sekaligus.
Maka ada fakta menarik jika membicarakan begitu banyaknya pemain wanita watak waktu itu, sehingga tokoh Bambangan, yakni tokoh satria dengan temperamen alusan akhirnya banyak diperankan oleh pemain wanita. Dahulu memang peran Arjuna, Abimanyu, atau Irawan sangat lazim diperankan wanita. Tapi belakangan karena krisis pemain wanita, maka Bambangan terpaksa dimainkan pria.
Tulisan Ki Soleh Adi Pramono berjudul Cross Gender Dalam Kehidupan Pewayangan dalam buku karya Didik Nini Thowok Cross Gender, (Penerbit Sava Media) menggambarkan:
Pertukaran karakter laki-laki menjadi wanita atau wanita menjadi laki-laki dalam dunia pewayangan sudah banyak digambarkan. Ada beberapa tokoh misalnya Dewi Wara Srikandi, Endang Werdiningsih, Kedi Wranatnala, Kenyawandu dan Dewi Uma. Mereka mengubah sifat jati dirinya karena lakon menghendaki begitu. (hal.115)
Sumber lain menyebut, fenomena tokoh Bambangan dalam wayang orang diperankan oleh pria (lazimnya dimainkan oleh perempuan) konon diawali dari WO Sriwedari Sala, dimana salah seorang pemain pria di sana berhasil memainkan karakter Bambangan. Maka demi keberhasilan ini selanjutnya banyak perkumpulan WO mengikuti tren itu, sehingga sampai sekarang terjadi salah kaprah: tokoh Bambangan dimainkan oleh pria, meski dengan konsekuensi untuk mendapatkan peran yang pas, maka syaratnya pemain itu harus tampan.

Leave a Reply