Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa, Fenomena “Susuk”, Pesona Ragawi Menebar Aura Para Bintang Panggung

Bambang Iss Wirya

Pada dasawarsa 80-an Ngesti Pandawa diakui banyak bertabur primadona sebagai bintang panggung. Pesona ragawi para rol begitu menebar aura yang menjadi daya pikat penonton. Hal itu menguatkan fenomena ini, sumber lain menyebutkan, bahwa para primadona di setiap kelompok kesenian memiliki pesona tersendiri, diduga memiliki ajian-ajian tertentu misalnya bisa disebut susuk.

Konon fenomena ini sangat merebak di dunia panggung seni saat itu, seperti dikatakan Wiradiyo hal itu disebabkan adanya persaingan (rivalitas antarpemain dan antarperkumpulan yang ada saat itu sangat ketat)

Apa itu ajian susuk? S Prawiro Atmojo dalam buku Bausastra Jawa – Penerbit Yayasan Joyo Boyo 1987 mengartikan kata susuk sebagai: dom (jarum) emas/perak) kang dilebokake ing awak srana supaya kadhot. (dom atau jarum emas atau perak yang disusupkan di badan sebagai sarana agar terlihat cantik menarik).

Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Penerbit Balai Pustaka menyebut, susuk sebagai: Jarum emas, intan dsb yang dimasukkan ke dalam kulit, bibir, dahi dsb disertai mantra agar tampak menjadi cantik, menarik, manis dsb.

Jadi memang bukan rahasia lagi jika waktu itu banyak anak panggung yang memiliki magnet dan daya tarik saat di atas panggung karena sekali lagi menurut cerita yang beredar di kalangan anak wayang diduga menggunakan media susuk atau ajian lain. Dari manakah mereka mendapatkan ajian itu, konon didapat dari banyak orang yang membuka praktik perdukunan.

Wiradiyo mengaku, sebagai pemain wayang bertahun-tahun tidak pernah menggunakan atau memiliki ajian semacam itu. “Aku main wayang ya polos-polos wae, ora duwe apa-apa (saya bermain wayang itu polos-polos saja, dan tidak punya ajian apa-apa),” begitu kata Wiradiyo.

Tapi diakuinya pula ajian susuk atau sarana semacam itu bisa mempengaruhi lingkungannya pula. Maksudnya, meski banyak juga pemain tidak pernah menggunakan ajian itu tapi mereka merasa terimbas dengan kondisi pengunjung yang selalu ramai pada setiap malamnya.

Artinya bukan tidak mungkin Wiradiyo yang tidak menggunakan ajian punya peluang memilikinya fans, ini terbukti ada kejadian suatu ketika Wiradiyo diperhatikan betul oleh salah satu pengunjung.

“Ceritanya waktu itu saya mau dijadikan anaknya oleh seorang bapak yang ternyata orang kaya. Bapak itu sering menonton Ngesti, dan saya akan dipek (diminta) anak untuk mengurus lahan sawahnya di Sala, tapi saya menolaknya,” aku Wiradiyo.

Mengapa ajian seperti susuk menjadi sarana pelarisan dan pengasihan, tentu sudah banyak orang yang memahami.

Di Celapar ada beberapa dukun yang melakukan ilmu gaib protektif, yakni mereka melakukan aktivitas penyembuhan dan pengobatan dengan menggunakan sebuah mata uang logam yang disisipkan di bawah kulit si penderita. Dukun seperti ini disebut dhukun susuk. (Cliford Greetz, 1960: 86).

Dalam  menjalankan aktivitas mereka, mereka banyak sekali banyak sekali menggunakan mantera-mantera (japa) dan memberikan berbagai macam jamu tradisional (jampi) kepada pasien mereka. Oleh karena itu mereka sering kali disebut juga dengan dhukun japa atau dhukun jampi. (Koentjaraningrat, .. : 42

Wiradiyo benar, pemanfaatan ajian susuk di kalangan ”selebritis” seni tradisional pertunjukan kala itu sudah bukan rahasia lagi. Sehingga saat itu banyak bintang panggung sanggup menarik perhatian banyak orang. Mereka seperti magnet dan memiliki banyak penggemar. Kondisi ini sangat berbeda dengan sekarang, dimana tidak banyak pemain rol wanita memanfaatkan, bisa dikatakan bahwa tidak adanya persaingan antarpemain wayang dan bisa jadi pula karena kemajuan teknologi, maka budaya ajian susuk sepertinya tidak ada lagi.

Jika tidak memanfaatkan ajian susuk pun, sebenarnya para pemain yang masuk dalam tataran rol itu memang telah memiliki totalitas dalam berkesenian, profesionalitas tak lagi bisa ditawar, sehingga memiliki penggemar. Mereka berada di deret pemain rol yang sangat bertanggungjawab di bidangnya, sehingga saat itu banyak pemain yang menomorduakan komersialitas dan mengutamakan permainan watak.

“Anak-anak wayang sekarang baru bisa besut (gerakan sederhana dalam tari) saja  akan menanyakan dulu berapa honornya sebelum main wayang,” begitu Sunarno menambahi adanya fenomena ini.

Baca juga: Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa, Melihat Sri Panggung Ngesti Pandawa

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*