Ini Jadwal Penerbangan Bandara Adi Soemarmo Yang Terdampak Erupsi Merapi

Ilustrasi | Foto: detik.com

JoSS, SOLO – Gunung Merapi yang berada di wilayah Jateng dan DIY kembali mengalami erupsi pada Selasa (3/3) pagi sekitar pukul 05.22 WIB. Tinggi kolom abu mencapai 6.000 meter. Sejumlah wilayah di Solo hujan abu tipis.

Otoritas Bandara Adi Soemarno di Solo, Jawa Tengah menyatakan bandara ditutup sementara, penutupan itu diumumkan melalui notice to airmen (Notam) bernomor B0614/20 NOTAMN yang dikeluarkan AirNav Indonesia.

“Penutupan bandara untuk penerbangan sipil dikarenakan abu Gunung Merapi,” tertulis dalam Notam tersebut.

Sejumlah jadwal pesawat mengalami penundaan yakni Lion JT 537 tujuan Solo (SOC) –Jakarta (CKG), GA222 rute Jakarta –Solo cancel dan AirAsia QZ8454 rute Denpasar-Solo dibatalkan. Awalnya Notam diberlakukan mulai pukul 9.10- 10.10 WIB, namun hingga kini belum ada pemberitahuan lebih lanjut terkait kapan dibuka kembali penerbangan.

Seperti diketahui Gunung Merapi hingga saat ini masih berstatus Level II atau Waspada sejak Mei 2018 lalu. Letusan Gunung Merapi pagi ini yang menmeburkan abu vulkanik setinggi 6.000 meter merupakan yang terbesar dibandingkan erupsi sebelumnya terakhir pada 13 Februari 2020 yang hanya memiliki keinggian kolom abu sekitar 2.000-3000 meter.

Baca juga: Mengira Idap Corona, Warga Korsel di Solo Bunuh Diri

Hal itu menyebabkan hujan abu tipis di sejumlah wilayah di Solo, sementara sejumlah daerah di Boyolali dan Sukoharjo terpantau mengalami hujan pasir.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) merilis letusan Gunung Merapi terekam seismograf dengan amplitude 75 mm dan durasi 450 detik. Awan panas teramati sejauh 2.000 meter di sektor Selatan-Tenggara mengarah ke Kali Gendol.

Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) diterbitkan dengan kode warna merah. Angin saat kejadian mengarah ke Utara-Timur.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan hujan abu dilaporkan terjadi di radius 10 kilometer dari puncak, terupama pada sektor Utara seperti wilayah Kecamatan Musuk dan Cempogo, Boyolali. Hujan abu bercampur pasir terjadi di wilayah Desa Mriyan, Boyolali yang berjarak sekitar 3 KM dari puncak Gunung Merapi.

“Rangkaian letusan sejan November 2019 hingga saat ini serta aktifitas kegempaan VTA menjadi indikasi bahwa saat ini Gunung  Merapi berada pada fase instrusi magma menuju permukaan yang merupakan fase ke 7 dari kronologi aktifitas erupsi sejak 2018-2020,” tuturnya.

Dia menambahkan kejadian letusan semacam ini masih dapat terus terjadi sebagai indikasi bahwa suplay maghma dari dapur maghma masih berlangsung. Ancaman bahaya ini berupa awan panas yang besumber dari bongkaran material kubah lava dan lontaran material vulkanik dengan jangkauan di bawah 3 kilo meter dari puncak.

“Untuk itu masyarakat diminta untuk tidak panik, tetap tenang dan beraktifitas seperti biasa di luar radius 3 KM dari puncak Merapi,” pungkasnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*