JoSS, TOKYO – Jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang merupakan kru kapal pesiar Diamond Princess yang terinfeksi corona virus bertambah menjadi 4 orang. Pemerintah RI upayakan evakuasi WNI lainnya dari Yokohama Jepang.
Hal itu dikonfirmasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo yang menyatakan satu kasus positif corona ini menambah daftar korban terinfeksi corona di kapal pesiar. Sehari sebelumnya, sebanyak 542 orang di kapal pesiar itu dinyatakan positif mengidap virus corona.
“Per 19 Februari total empat WNI confirm corona. Dua WNI dirawat di RS Kota Chiba, dua di RS Tokyo. Keempat WNI merupakan kru kapal pesiar Diamond Princess ,” kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI, Judha Nugraha, Rabu (19/2).
Tim KBRI Tokyo mengatakan saat ini sudah mengirimkan tim untuk mengunjungi satu WNI yang baru dinyatakan positif corona. “Posisi 74 WNI lainnya masih berada di dalam kapal,” tambah Judha.
Terkait hal itu, Kementerian Kesehatan menyatakan pemerintah tengah mempertimbangkan rencana untuk mengevakuasi semua Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini ‘terjebak’ dalam kapal pesiar Diamond Princess di Jepang karena wabah virus corona atau covid-19. Namun perkara waktu dan teknis penjemputan masih dibahas oleh pemerintah dan dikaji lebih lanjut.
“Skenario kita akan jemput. [Baru] Sampai situ saja [rencananya]. Semuanya dijemput. Yang sakit tunggu sembuh baru dijemput,” ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Ahmad Yurianto di Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (19/2), seperti dikutip dari CNNIndonesia.
Pria yang akrab disapa Yuri itu mengatakan malam ini pihaknya bakal merapatkan perkara rencana pemulangan para WNI tersebut. Pasalnya kasus penyebaran wabah virus corona di kapal Diamond Princess cukup kompleks.
Baca juga: WNI di Singapura Yang Terinfeksi Covid-19 Dinyatakan Sembuh
Yuri menjelaskan setiap harinya angka konfirmasi positif Covid-19 di kapal tersebut terus bertambah. Sedangkan menurut protokol Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disarankan agar observasi dilakukan 14 hari setelah terinfeksi. Sehingga masalah masa observasi yang optimal perlu juga dibahas lebih lanjut.
“Yang kita takutkan ada penularan berkesinambungan. Ini yang menyebabkan cukup kompeks. Ini juga [sama seperti] di Wuhan. Kasusnya nambah terus karena siklusnya,” ucapnya.
Untuk itu, lanjut Yuri, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto sudah menyarankan agar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi tidak terburu-buru melakukan penjemputan WNI di Jepang.
Hal ini bisa berkaca pada langkah yang dilakukan Hong Kong, di mana mereka memilih mengirim tim medis ke sana ketimbang mengevakuasi warga negaranya.
Lebih lanjut terkait mekanisme setelah pemulangan, Yuri mengatakan observasi di Indonesia juga akan dilakukan pertimbangan-pertimbangan dari sejumlah aspek. Namun observasi tersebut belum tentu dilakukan di Natuna.
“Ini jumlahnya beda dengan yang kemarin. Ini kan lebih sedikit. Di tempat yang nggak terlalu jauh misalnya. Sepanjang proses karantina itu bisa betul-betul menjaga mereka dari kontak penduduk yang lain. Betul-betul bisa kita batasi pergerakannya,” jelasnya.
Nantinya jika observasi dilakukan di tempat lain di luar Natuna, Yuri juga memastikan pihaknya bakal mensosialisasikan lebih dulu kepada warga setempat agar tidak diprotes seperti yang terjadi di Natuna. (lna)

Leave a Reply