

Kesenian tradisional, wayang orang, wayang purwa, ketoprak atau ludruk dapat dijadikan sebagai sarana ajaran pendidikan budi pekerti bagi adat ketimuran, khususnya Jawa. Pesan moral yang mudah ditangkap dan dipahami dalam pergelaran wayang adalah pendidikan budi pekerti.
Falsafah akhlaqul karimah atau budi luhur mengalir dalam seluruh adegan, tokoh, dan cerita wayang orang. Tokoh wayang dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu tokoh-tokoh yang berakhlak atau berwatak baik dan buruk.
Para penonton pergelaran wayang pada umumnya mengetahui karakter dan watak tokoh-tokoh wayang walaupun serba sedikit. Misalnya, Sengkuni itu jahat, sedangkan Kresna itu bijaksana. Tak ayal dari perwatakan itu membuat penonton meniru sikap dan perilakuknya.
Wujud adanya budi luhur juga mengalir di kesenian wayang kulit. Kesenian ini selalu dimainkan pada perhelatan dan hajatan keluarga, termasuk pada momentum tertentu seperti slametan kelahiran bayi, mendirikan rumah, ruwatan, khitan- an, pernikahan, perayaan hari bersejarah nasional, panen raya, bersih desa, hari raya keagamaan sampai pemilihan pejabat desa.
Di berbagai daerah khususnya di Jawa, pada momentum tertentu, termasuk hari besar kenegaraan, selalu digelar wayang kulit, namun tidak sedikit pula wayang orang dan ketoprak. Beberapa pilihanĀ cerita disuguhkan yang dipadu dengan lakon-lakon tematik. Tentu dengan pengharapan lakon cerita itu akan menjadi refleksi dalam wujud kenyataan hidup di kemudian hari.
Era modern saat ini tradisi wayangan bahkan masih berlaku. biasanya digelar di pusat- pusat kota seperti alun-alun, lapangan, halaman balai desa, kantor kelurahan atau di rumah-rumah warga yang memiliki halaman luas.
Pada setiap pertunjukan wayang kulit, masyarakat selalu hadir dengan antusias. Apalagi semakin dalang yang diundang memiliki nama atau kelompok wayang orang ternama, maka akan semakin ramai pula penontonnya. Bahkan bisa menciptakan pasar tiban dengan munculnya para pedagang mainan anak-anak dan makanan.

Leave a Reply