[widget id="text-5"]

Upayakan Exit Tol Dalam Kota Ruas Bawen – Salatiga, DPRD Sowan Kementerian PUPR

Ilustrasi | Foto: google

JoSS, SALATIGA – Anggota DPRD Kota Salatiga yang baru dilantik langsung tancap gas realisasikan program sebagai upaya peningkatan kesejahteraan Salatiga. Mereka baru-baru ini menyambangi Kantor Kementerian PUPR guna mewujudkan exit tol dalam kota ruas Bawen Salatiga.

Wakil Ketua DPRD Salatiga, Syaiful Mas’ud  mengatakan aksi ini wujud keseriusan para wakil rakyat dalam mewujudkan pembukaan pintu keluar (exit) tol Bawen-Salatiga tepatnya di Kauman Kidul yang mengakses Jalan Patimura Salatiga menuju kawasan perkotaan.

Dia menambahkan, tujuannya untuk meningkatkan perekonomian dan akses jalan tol ke kawasan perdagangan. Sejumlah anggota DPRD Salatiga periode 2019-2024 yang baru dilantik belum genap sebulan langsung kebut program dalam meningkatkan kesejahteraan Salatiga.

Dipimpin Ketua DPRD Salatiga Dance Ishak Palit dan dua wakil ketua, masing-masing Syaiful Mas’ud dan Latief Nahari melakukan koordinasi dan pertemuan dengan Kementrian PUPR di Jakarta untuk segera mewujudkan exit tol kota dari Jalan Patimura Salatiga tersebut.

Dia mejelaskan, berkoordinasi yang dilakukan di Kementrian PUPR untuk membahas dan percepatan exit tol Jalan Patimura Salatiga dari jalan tol Semarang-Bawen-Salatiga.

“Khusus exit dari arah Semarang diharapkan segera bisa direalisasikan secepatnya. Kami mohon doanya dari masyarakat Salatiga agar pembangunan Salatiga semakin bertambah maju,” katanya, seperti dikutip dari KRjogja.com, Kamis (3/10).

Baca juga: Konektivitas Tol Trans Jawa Mulai Membentuk Pola Kegiatan Ekonomi Baru

Seperti diketahui Kota Salatiga mendapat exit tol menuju kota dari Jalan Patimura Salatiga berkaitan dengan operasional jalan tol Semarang-Solo seksi III, Bawen-Salatiga (gerbang tol Tingkir), namun hingga kini exit tol belum terealisasi.

Sejumlah masyarakat dan para pedagang oleh-oleh mengeluhkan kekhawatiran mereka terkait belum adanya pintu tol yang mengarah dan dekat dengan pusat kota Salatiga. Sebab, dengan beroperasinya jalan tol ini, sejumlah wilayah seperti Salatiga, Ampel dan Boyolali hanya menjadi daerah lintasan.

Sebagian dari masyarakat mulai memperhitungkan keberlangsungan usahanya. “Saat ini jalan tol Semarang-Solo ini sudah operasional, pendapatan penjualan oleh-oleh di Salatiga menurun drastis karena pelintas kini lebih memilih jalur tol ketimbang masuk dalam kota Salatiga ketika hendak ke Solo. Lama kelamaan Salatiga akan ‘mati’,” kata Hariyadi (37), penjual jajanan khas di Jalan Jendral Sudirman, Kota Salatiga.

Hal ini, jelasnya, dikhawatirkan bisa mempengaruhi pendapatan warga yang selama ini membuka dan menggantungkan hidup dari usaha yang ada di sepanjang jalur utama Semarang-Solo.

Sejauh ini, di sepanjang jalur utama ini banyak sekali usaha seperti rumah makan, restoran atau toko-toko. Ia mencontohkan, dengan beroperasinya tol ruas Bawen-Salatiga saja maka kota Salatiga tidak akan disinggahi.

Pintu masuk tol ruas ini ada di Bawen dan pintu keluarnya di kawasan Tingkir, yang berjarak sekitar 4 kilometer dari jantung kota Salatiga. “Kalau tidak ada yang mampir, siapa yang akan jajan, beli oleh- oleh, makan atau membeli beberapa keperluan di Salatiga,” katanya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


[widget id="text-3"]