Konsisten Pada Gayanya, Gwen Stefani Didapuk Jadi Ikon Fashion 2019

Gwen Stefani | Foto: inquisitr.com/ Ethan Miller/Getty Images

JoSS, CALIFORNIA – Konsistensinya sebagai desainer dan gayanya yang selalu tampil eksentrik membuat Gwen Stefani didapuk sebagai ikon fashion 2019. Penghargaan itu bakal diterimanya dalam ajang People’s Choice Awards 2019 pada November mendatang.

Bagi Gwen Stefani fesyen adalah terapi. Naluri fesyen Gwen Stefani tak hanya menjadikannya sebagai desainer yang sukses, tapi juga salah satu selebriti dengan busana terbaik.

Gaya berbusana Stefani patut diacungi jempol. Vokalis No Doubt ini menjadi sumber inspirasi mode dengan memadukan cetakan pop dan punk dalam satu tampilan. Aksesori tak biasa kerap dipilihnya, mulai dari dasi hingga sabuk rantai.

“Saya sangat bersyukur menerima penghargaan ini dan terus terinspirasi oleh mereka yang percaya diri tampil menonjolkan individualitas mereka yang unik,” ujar Stefani dalam sebuah pernyataan, mengutip page Six.

Bagi Stefani, fesyen ibarat simbol kreatif yang menjadi wadah untuk mengekspresikan kepribadiannya. Dengan penghargaan ini, Stefani mengikuti jejak bintang pop lainnya, Victoria Beckham, yang meraih penghargaan sama pada 2018 lalu untuk pertama kalinya.

Perempuan kelahiran California itu pernah meraih sukses besar pada era 1990-an bersama No Doubt. Dalam setiap penampilannya, Stefani kerap tampil eksentrik dan mencolok.

Baca juga: Melenggang di New York Fashion Week, Olvah Alhamid: Dulu Hanya Bisa Bermimpi

Setelah sukses dengan solo kariernya, Gwen Stefani merilis lini fesyen LAMB pada 2004 silam. Nama LAMB sendiri diambil dari album solo perdananya, Love Angel Music Baby (LAMB), yang dirilis pada November 2004.

Koleksi LAMB dimulai dengan sebuah tas hasil kolaborasinya dengan LeSportsac. LAMB kemudian berkembang menjadi lini fesyen dengan koleksi yang dipenuhi oleh motif leopard, rok kotak-kotak, dan deretan pakaian berpotongan longgar.

Tak main-main, koleksi LAMB juga bahkan pernah melenggang di ajang mode ternama New York Fashion Week.

“Ini adalah hasrat dan pengalihan perhatian saya dari kehidupan,” ujar Stefani dalam wawancara bersama WWD pada 2004. Baginya, fesyen tak ubahnya terapi dari rutinitas yang menjemukan.

Saat memulai karier solonya, Stefani kerap tampil dengan konsep mode ala Harajuku. Dia memadukan busana bernuansa punk dalam beberapa potongan Harajuku klasik.

Di tengah popularitasnya, Stefani sempat menjadi kontroversial karena pengaruh budaya Jepang-nya yang teramat besar.

Terlepas dari kontroversi itu, lini fesyennya berhasil mencatat penjualan hingga US$100 juta selama tiga tahun wira-wiri di pasaran. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*