Menjalani Ritual Topo Pendhem, Benarkah Supani Bisa Menghilang?

Mbah Supani melakukan ritual ekstrem Topo Pendhem | Foto: facebook

JoSS, PATI – Supani (62) atau yang akrab disapa Mbah Supani warga Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Pati, Jawa Tengah mendadak bikin heboh netizen dalam dua hari terakhir terkait ritual ekstrem Topo Pendhem yang dilakukannya.

Aktivitas ritual bertapa dengan mengubur diri di Bulan Suro ini membuat penasaran warga hingga menjadi perbincangan hangat baik didunia maya bagi kalangan milenial hingga di dunia nyata di pos ronda kampung hingga warung kopi.

Supani melakukan topo pendem dengan mengubur diri di dalam rumah. Layaknya jenazah, pelaku tapa pendem juga dibungkus kain kafan dan dikubur hidup-hidup dengan berbagai ubo rampe layaknya penguburan jenazah. Hanya saja liang lahat diberi ventilasi, selain itu juga digunakan untuk menyuplai makanan ke dalam kubur.

Orang yang melakukan tapa pendem biasanya punya tujuan-tujuan tertentu, mulai dari tingginya ilmu hingga minta kesejahteraan. Tak tanggung-tanggung, Mbah Pani ini telah 10 kali melakukan topo pendhem.  Untuk yang terakhir ini, Mbah Pani melakukannya selama 5 hari mulai Minggu (15/9) habis magrib.

Dalam budaya jawa dikenal berbagai ritual atau kegiatan tirakat dengan berbagai macam tujuan. Dikutip dari beritajowo.com, tirakat merupakan suatu upaya spiritual seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan badan untuk mencapai sesuatu dengan jalan mendekatkan diri kepada tuhan, baik berupa perilaku, hati dan pikiran.

Baca juga: Ubah Stigma, Wisata Religi Gunung Kemukus Digelontor Rp1,7 Miliar

Berpuasa temasuk salah satu bentuk tirakat, karena dengan berpuasa orang menjadi tekun dan kelak mengaharap mendapatkan pahala. Menurut kesusastraan jawa orang yang bertahun-tahun berpuasa dianggap sebagai orang keramat.

Selain puasa, kegiatan tirakat lainnya adalah meditasi dan semedhi. Orang jawa sering menyebutnya dengan istilah bertapa.

Dengan bertapa, nantinya diharapkan orang dapat menjalankan kehidupan dengan menahan hawa nafsu sehingga tujuan-tujuan yang penting dapat tercapai.

Biasanya meditasi dan semedi kerap dilakukan bersama-sama dengan tapa brata, yang dilakukan ditempat-tempat yang dianggap keramat misal gunung, makam leluhur, ruang yang memiliki nilai keramat dan sebagainya.

Bertapa sendiri ada banyak cara, salah satunya topo pendem atau ngluwang. Topo pendhem yaitu puasa dikubur hidup-hidup hanya deberi jalan nafas, biasanya selama 3 hari atau 7 hari. Pertaruhannya nyawa, dan jika tidak kuat yang menjalankan bisa mengalami gangguan jiwa.

Namun, jika berhasil konon pelaku topo pendhem mampu menghilangkan tubuh dari pandangan orang atau melihat jelas dengan mata telanjang orang/ mahluk – mahluk ghoib.

Lalu, setelah ke 10 kalinya melakukan topo pendhem, benarkah Mbah Pani bisa menghilang? hanya dia yang tau. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*