Kebangetan, Tutup Tempat Sampah Hingga Keran Air di Malioboro Hilang Dicuri

Kran Air di Malioboro | Foto: tribunnews/kumparan

JoSS, JOGJA – Sekda DIY Gatot Saptadi menyayangkan aksi sejumlah oknum yang tidak bisa ikut menjaga sarana dan prasarana publik yang dipasang di jalan Malioboro, Jogja. Selain rusak, beberapa diantaranya hilang dicuri.

Beberapa sarana dan prasarana (sarpras) yang ada di kawasan Malioboro, mulai rusak diantaranya, kursi dan instalasi air siap minum. Bahkan ada bagian dari sarpras tersebut yang hilang seperti tutup tempat sampah dan aluminium jalur difabel di kawasan semi pedestrian Malioboro.

Kondisi tersebut sangat memprihatinkan mengingat salah satu kawasan strategis sumbu filosofi ini merupakan ikon utama destinasi wisata DIY yang menjadi incaran wisatawan, baik wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman).

Gatot mengaku, dirinya telah mendapatkan beberapa laporan kerusakan sarpras yang ada di semi pedestrian kawasan Malioboro. Untuk itu, pihaknya akan melakukan koordinasi terkait pemeliharaannya dan tidak perlu lempar tanggung jawab antar instansi terkait.

“Harus tetap dikoordinir pemeliharaannya, jangan kalau ada yang rusak atau hilang malah saling lempar tanggung jawab. Tinggal komitmen saja itu belum diserahkan proyeknya, jangan alasan belum ada anggaran perbaikan dan sebagainya itu alasan klasik,” ujar Gatot, seperti dikutip dari KR.

Gatot menyampaikan, antar instansi yang terkait revitalisasi kawasan semi pedestrian Malioboro justru harus dilakukan bersama-sama baik Pemda DIY maupun Pemkot Yogyakarta, terlebih sumber dananya berasal dari Dana Keistimewaan (Danais) untuk membangun kawasan strategis Keistimewaan DIY.

Baca juga: PKL Malioboro Protes Tak Ingin Ungkur-ungkuran

Secara formalitas selama masa pemeliharaan bangunan untuk waktu enam bulan memang menjadi tanggung jawab kontraktor. Namun jika sudah lebih waktunya maka yang bertugas memelihara adalah yang mempunyai kewenangan di kawasan tersebut sesuai tupoksinya.

“Sumber dananya sama, tinggal siapa yang mau melaksanakan, kuncinya komitmen bersama untuk merawat dan memelihara Malioboro. Malioboro itu milik bersama. Siapapun yang akan menganggarkan yang penting ada kejelasan yang menangani siapa,” ujarnya.

Pihaknya meminta apabila ada kesulitan terkait anggaran untuk pemeliharaan kawasan strategis ini bisa dikoordinasikan bersama dengan Pemda DIY. Dirinya mengakui mudah dalam membangun tetapi sulit dalam memelihara dengan alasan klasik tidak ada anggaran maupun tenaga.

“Kita mempunyai infrastruktur yang bagus, tetapi belum bisa memeliharanya. Semua harus sadar diri dan bersamasama merawat dan memelihara kawasan Malioboro,” pungkas Gatot. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*