
JoSS, PURWOKERTO – Petugas Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Banyumas berhasil mengungkap identitas empat kerangka manusia yang ditemukan Kamis (22/8) di Desa Pasinggangan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dan menetapkan empat tersangka dalam kasus tersebut.
Kapolres Banyumas Ajun Komisaris Besar Polisi Bambang Yudhantara Salamun mengatakan berdasarkan rangkaian penyelidikan yang dilakukan oleh tim, pada hari Senin (26/8), pihaknya sudah bisa tentukan siapa tersangkanya.
“Kami sudah dapat simpulkan, kemudian dilakukan langkah-langkah untuk melengkapi barang bukti yang bisa kita kumpulkan. Alhamdulillah sekarang sudah terkumpul semua,” katanya, dalam konferensi pers di Markas Polres Banyumas, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Selasa siang (27/8).
Menurut dia, empat kerangka manusia yang ditemukan di halaman belakang rumah Misem (76), warga Desa Pasinggangan RT 07 RW 03, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, merupakan kerangka dari tiga anak Misem dan satu orang cucu Misem.
Empat kerangka manusia tersebut terdiri atas Supratno (usia saat dibunuh 51 tahun), Sugiono (46), Heri (41), dan Vivin (21). Dalam hal ini, Vivin merupakan anak dari Supratno yang merupakan putra sulung Misem, sedangkan Sugiono anak ketiga Misem, dan Heri anak kelima Misem.
“Pembunuhan terhadap empat korban tersebut terjadi pada tanggal 9 Oktober 2014 dan dilakukan oleh anak kedua Bu Misem, yaitu keluarga Bu Saminah yang rumahnya berdekatan dengan Bu Misem,” ungkap Kapolres.
Ia mengatakan pihaknya telah menetapkan empat anggota keluarga Saminah sebagai tersangka dalam kasus tersebut, karena mereka mengetahui dan merencanakan rangkaian pembunuhan terhadap keempat korban.
Keempat tersangka tersebut terdiri atas Saminah (52) beserta tiga anaknya, yakni Irfan (32), Putra (27), dan Saniah (37).
Menurut dia, motif pembunuhan adalah dendam yang didasari masalah tanah warisan.
“Kejadian pembunuhan pada siang hari di mana diskenariokan Bu Saminah membawa Bu Misem ke rumahnya supaya kondisi rumah di TKP itu (rumah yang ditempati Misem, red.) kosong,” katanya.
Baca juga: Catcalling, Bentuk Pelecehan Seksual Yang Sering Diabaikan
Ia mengatakan Misem dibawa ke rumah Saminah dengan alasan untuk dirawat karena kondisinya saat itu sedang tidak sehat.
Selanjutnya, dua anak laki-laki Saminah, yakni Irfan dan Putra masuk ke dalam rumah neneknya (rumah Misem, red.). Mereka menemukan pamannya atas nama Sugiono sedang mandi dan ketika keluar dari kamar mandi langsung dipukul menggunakan besi bekas dongkrak.
Setelah dipukul oleh Irfan dengan menggunakan besi, kata dia, Sugiono kembali dipukul oleh Putra dengan menggunakan tabung elpiji ukuran 3 kilogram hingga meninggal dunia dan selanjutnya jenazahnya dibawa ke salah satu kamar di rumah Misem.
Ia mengatakan Irfan dan Putra selanjutnya menunggu kedatangan penghuni rumah Misem lainnya, hingga akhirnya datanglah korban kedua, yakni Supratno yang baru pulang dari tempat kerja.
Sesampainya di rumah, kata dia, Supratno yang merupakan pegawai negeri sipil langsung dibunuh oleh kedua tersangka dengan cara dipukul menggunakan besi dan tabung elpiji.
Setelah meningggal dunia, jenazah Supratno dibawa ke dalam kamar dan ditumpuk di atas jenazah Sugiono.
“Tidak lama kemudian, datanglah saudara Heri yang merupakan putra bungsu atau putra kelima dari Bu Misem. Begitu datang, masuk ruang tengah, saudara Heri langsung dipukul dari belakang oleh kedua tersangka hingga meninggal dunia dan selanjutnya dimasukkan ke dalam kamar, lalu ditumpuk dengan korban lainnya,” papar Kapolres, menjelaskan.
Kendati tiga orang tersebut merupakan target utama, kata dia, kedua tersangka tahu jika tidak lama lagi akan datang sepupu mereka, yakni Vivin yang merupakan putri dari korban atas nama Supratno dan tercatat sebagai mahasiswi IAIN Purwokerto.
Saat tahu Vivin akan datang, kedua tersangka mencoba mengirim pesan singkat melalui telepon seluler milik Supratno supaya tidak pulang agar tidak menjadi korban kembali.
Akan tetapi ternyata pesan singkat itu tidak dibalas karena Vivin sudah sampai di rumah Misem hingga akhirnya turut dibunuh oleh Irfan dan Putra. “Keempat korban selanjutnya dikubur di belakang rumah Misem pada malam hari,” ungkapnya. (lna)

Leave a Reply