Jenazah KH. Wahyudin di Makamkan Hari Ini di Ciamis

Pimpinan yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo KH. Wahyudin | Foto: rmoljateng/solo.tribunnews.com

JoSS, SOLO – Pimpinan yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo KH. Wahyudin (67) tutup usia, Minggu (4/8) sore. Usai disalatkan, Masjid Baitussalam, kompleks Ponpes Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, jenazah kemudian dibawa ke Ciamis, Jawa Barat, untuk dimakamkan, Senin (5/8).

Dikutip dari Detiknews, pada Minggu (4/8) pukul 18.00 WIB ribuan pelayat mulai berdatangan untuk mendoakan dan  memberikan penghormatan kepada pimpinan Ponpes yang dicintai warganya tersebut. Terlihat masjid dua lantai berkapasitas lebih dari seribu orang itu penuh sesak.

Tak hanya di dalam masjid, sebagian jemaah terpaksa menggelar tikar untuk mengikuti salat jenazah dari luar masjid. Salat pun dilakukan hingga beberapa kloter.

Pukul 21.00 WIB, mobil ambulans tiba di kawasan ponpes. Jenazah mantan Direktur Ponpes Al-Mukmin itu akan dibawa ke Cikoneng, Ciamis, untuk dimakamkan.

Rencananya, jenazah akan disemayamkan terlebih dahulu di Ponpes Nurussalam Ciamis yang didirikan oleh Wahyudin. Senin (5/8) pagi, jenazah akan dikebumikan di tempat pemakaman setempat.

Ustaz Wahyudin dikabarkan meninggal dunia pukul 15.35 Wib, setelah mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah Surakarta.

Sebelumnya putra ke-3 Wahyudun, Hilmi Zulkarnain saat mengatakan, ayahnya mengalami penyakit komplikasi seperti Diabetes dan Fertigo, yang membuat Wahyudin harus dirawat di rumah sakit.

Baca juga: Kondisi Kesehatan Buya Syafii Terus Membaik

“Jumat sore mengeluarkan keringat dingin dan muntah, saat itu kami langsung membawa ke RS. Pada sabtu dini hari tidak sadarkan diri, dan sekitar pukul 06.00 wib mulai masuk ICU,” katanya.

Saat di ICU, ditemukan infeksi paru-paru, yang membuat Wahyudin susah bernafas, dan harus dibantu dengan alat bantu pernafasan.

“Dokter memasang alat bantu ventilator, untuk menopang pernafasan pada sabtu sekitar pukul 15.00 wib,” jelasnya.

Sejak dua hari yang lalu, Wahyudin dirawat di RS PKU Muhammadiyah Surakarta karena kondisi kesehatan yang menurun. Selama ini memang dia memiliki riwayat beberapa penyakit, antara lain diabetes, gangguan pernapasan hingga vertigo.

Namun menurut putra sulungnya, Dzikky Ridwan, ayahnya tidak menunjukkan gejala penyakit tersebut belakangan ini. Maka Wahyudin hanya dirawat di bangsal umum saat pertama dirawat.

“Setelah dicek, kondisinya normal, tidak ada gejala apa-apa. Sabtu kemarin kondisinya drop hingga masuk ke ICU,” kata Dzikky saat ditemui di Ponpes Al-Mukmin.

Wahyudin menghembuskan napas terakhir pada Minggu (4/8) pukul 15.38 WIB. Dia wafat pada usia 67 tahun dan meninggalkan seorang istri, Muslihah, delapan orang anak serta 11 orang cucu. “Sesuai wasiat beliau, jenazah akan dimakamkan di tempat kelahirannya, di Ciamis,” pungkasnya.

Dia menambahkan, selain dr. Arifin, ada dr. Suryo yang merupakan dokter kontrol ustaz Wahyudin, dan dokter spesialis saraf dr. Karmila yang menangani ayahnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*