Identitas Pembeli BBM Akan Didata, Untuk Apa?

Ilustrasi | Foto: liputan6.com

JoSS, JAKARTA – PT Pertamina (Persero) menargetkan, pada 2020 identitas pembeli Bahan Bakar Minyak (BBM) akan terdata. Hal ini seiring dengan dilaksanakannya digitalisasi ‎pada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Direktur Pemasaran Ritail Pertamina Mas’ud Khamid mengatakan, perkembangan proses digitalisasi‎ SPBU telah menyelesaikan tahap pemasangan sensor pada tangki timbun pada 5.518 SPBU. Hal ini dilakukan untuk konversi sistem distribusi BBM dari sistem manual menjadi digital untuk mempercepat distribusi pasokan.

Selanjutnya akan dilakukan pemasangan Electric Data Center (EDC) sebanyak 22 ribu unit yang saat ini sudah terealisasi sebanyak 1.400 unit.

“Dari 1.400 unit130 SPBU di Jakarta sudah terintegrasi‎,” kata Mas’ud, Kamis (22/8), seperti dikutip dari Kabar24.

Menurut Mas’ud, ‎ manfaat pemasangan sensor pada tangki penyimpanan BBM di SPBU tersebut adalah agar bisa memonitor jumlah BBM yang ditebus dan yang dijual SPBU.

“Berapa sudah laku, sehingga monitor stok. Kita bisa tau stok SPBU mana yang habis atau habis dalam berapa jam. Kalau sekarang kan stok habis tidak ketahuan,” tuturnya.

Baca juga: Pertamina Pastikan Pasokan Elpiji 3KG di Jogja Tepat Sasaran

Mas’ud melanjutkan, ‎proses berikutnya adalah pemasangan alat pencatat pada ujung titik serah BBM ke konsumen melalui kran penyalur (nozzle), kemudian mengintegrasikan identitas pembeli BBM dengan aplikasi Linkaja.

Mas’ud mengungkapkan, Pertamina akan mengintegrasikan‎ identitas kendaraan dengan meminta data base kendaraan dari Korps Lalulitas Polri. Rencananya pada 2020 sistem digitalisasi selesai digarap dan secara otomatis identitas kendaraan dan pengisi BBM bisa diketahui.

“Urusan siapa yang beli melalui Linkaja membeli datanya siapa saja, begitu masuk nomor hp, data e-KTP, 2020 kita akan masuk nomor kendaraan, saya udah minta database nomor kendaraan, itu akan diintegrasikan,” katanya.

Mas’ud menambahkan digitalisasi pendistribusian ke SPBU itu sudah di-endorse oleh BPH Migas, Kementerian ESDM, dan pihak terkait sesuai customer requirement. Dikatakannya, saat ini semua pihak sudah menggunakan platform digital. Selain untuk memenuhi kebutuhan customer, juga untuk mempermudah proses distribusi BBM.

“Untuk menjaga fungsi ketahanan stok, saat dipasang automatic tank gauge. Kita mengetahui sisa stok secara otomatis, saat ini masih manual sehingga terjadi hambatan pasokan. Ke depannya akan kita mengenali profil dari kebutuhan jenis bahan bakar SPBU,” jelasnya.

Dari total 5.518 SPBU besar yang menjadi target instalasi tersebar di seluruh Indonesia, setidaknya 1.000 SPBU yang sudah terinstalasi sistem digitalisasi, dan baru ada 300 SPBU sudah terintegrasi antara tanki nozzle SPBU dengan server SPBU. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*