
JoSS, SOLO – Penggunaan energi baru terbarukan merupakan sebuah keharusan. Untuk itu, pemerintah berkomitmen mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) sebagai pengganti energi fosil yang makin lama makin menipis persediaan dan cadangannya.
Hal itu diungkapkan, Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Archandra Tahar usai memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta di Solo, Rabu, (14/8)
“Untuk EBT ini sudah jelas strategi kami ke depan, yaitu harus memperbanyak EBT. Karena fosil makin lama makin berkurang dan suatu saat mungkin kita tidak memproduksi lagi. Untuk itu kita berusaha memakai EBT,” katanya, seperti dikutip dari Antara.
Pihaknya menargetkan penggunaannya sudah mencapai 23 persen pada tahun 2025. Sedangkan saat ini, dikatakannya, untuk pembangkit EBT sudah mencapai 12 persen.
Disinggung mengenai sumber daya yang akan dioptimalkan sebagai bahan baku EBT, pihaknya memastikan akan memanfaatkan seluruh sumber daya alam yang ada, di antaranya angin, air dan energi panas bumi atau geothermal.
Baca juga: Investor Swiss Minat Olah Sampah Bantul Jadi Listrik
Terkait dengan geothermal, dikatakannya, merupakan bagian dari kearifan lokal Bangsa Indonesia yang belum tentu dimiliki oleh negara lain.
“Tidak seperti angin, solar yang hanya bisa digunakan siang hari atau pada saat ada angin, kalau geothermal ini seperti PLTU, bisa digunakan sepanjang hari,” katanya.
Meski demikian, diakuinya, dalam pengembangan energi panas bumi ini pemerintah masih menghadapi kendala.
“Salah satunya penolakan masyarakat yang belum mengerti bahwa geothermal ini sumber energi yang ramah lingkungan karena ada sebagian yang mengatakan bahwa energi ini tidak ramah lingkungan,” katanya.
Dia menuturkan, pemanfaatan energi baru dan terbarukan merupakan penentu tercapainya kedaulatan energi. Indonesia pun memiliki peluang membuat kedaulatan tersebut karena memiliki sumber energi terbarukan berasal dari air, mikro hidro, angin (bayu), tenaga surya, gelombang laut dan panas bumi.
Meski sumber energi terbarukan banyak, pemanfaatannya belum bisa memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Salah satu kendala besar pengembangan EBT adalah mahalnya teknologi. (lna)

Leave a Reply