
JoSS, JAKARTA – Sastrawan dan wartawan senior Arswendo Atmowiloto (71) meninggal dunia pukul 17.50, Jumat (19/7). Arswendo meninggal dunia di kediamannya Komplek Kompas, Petukangan, Jakarta setelah berjuang cukup lama melawan sakit kanker prostat yang dideritanya.
Kabar duka itu juga disampaikan oleh kawan dekat Arswendo, Erros Djarot. “Iya betul,” kata Erros Djarot, hari ini seperti dikutip Antara. Arswendo meninggal karena terkena penyakit prostat. Ia sebelumnya memang sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Pertamina Pusat, Jakarta.
Kabar soal Arswendo mengidap kanker prostat ini juga pernah disampaikan rekannya yang juga sesama seniman teater, Rudolf Puspa melalui akun Twitter-nya. “Arswendo dua bulan ini terkena kanker prostat. Sudah dua kali dioperasi. Kondisinya tadi pagi drop, dibawa dengan ambulans ke RS Pertamina. Mohon doa ya,” tulis Rudolf pada akun Twitternya.
Arswendo Atmowiloto merupakan seniman dan budayawan legendaris di Indonesia. Bermula berprofesi sebagai wartawan, kepiawaian Arswendo menciptakan banyak karya tulis menjadikan dirinya sebagai sosok penting dalam sejarah literasi Indonesia.
Baca juga: Putra Ketua MA Meninggal Akibat Kecelakaan Moge di Namibia
Arswendo telah menghasilkan banyak cerpen, novel, naskah sinetron, hingga memenangkan sejumlah penghargaan, salah satunya Hadiah Sastra Asean pada 1987.
Salah satu karya terkenal Arswendo adalah sinetron Keluarga Cemara yang kemudian diangkat menjadi film pada 2018.
Pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah ini diketahui merupakan budayawan tersohor Indonesia. Arswendo telah melahirkan beragam karya berupa novel, cerpen dan naskah sinetron. Atas karyanya ia sempat diganjar Hadiah Zakse pada 1972 dan Hadiah Sastra Asean pada 1987.
Karier Arswendo dimulai dari menjadi wartawan Kompas, kemudian pemimpin redaksi Hai, Monitor, dan Senang. Ketika menjadi wartawan, dan pensiun, Arswendo membuahkan banyak karya tulis yang patut dikenang untuk dunia literasi Nasional.
Selain itu, Arswendo juga sempat mendirikan perusahaannya bernama PT Atmo Bismo Sangotrah. Perusahaan itu memayungi sedikitnya tiga media cetak, yaitu tabloid anak Bianglala, Ina, dan tabloid Pro-TV. (lna)

Leave a Reply