Dua Bulan Tak Bisa Melaut, Nelayan Gunungkidul Beralih Jadi Petani

Ilustrasi | Foto: goolge

JoSS, GUNUNGKIDUL – Para nelayan di Gunungkidul sudah dua bulan lebih tidak bisa melaut akibat gelombang tinggi yang terjadi di Laut Selatan Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuat nelayan yang berada di Pantai Ngrenehan, Desa Kanigoro, Kabupaten Gunung Kidul, DIY alami paceklik.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, para nelayang beralih kerja serabutan dan beberapa menjadi petani.

Helayan Pantai Ngrenehan Endro mengatakan selama dua bulan terakhir, dirinya juga kesulitan dalam mencari ikan. Saat ini, dirinya hanya bisa pasrah. “Saya juga kerja serabutan, terkadang menjadi buruh tani untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Sementara itu, seorang nelayan Pantai Ngrenehan Wasidin mengatakan dalam dua bulan terakhir, gelombang pantai selatan cukup tinggi.

Kondisi tersebut memaksanya tidak melaut karena jika dipaksakan, dikhawatirkan hasil tangkapan tidak maksimal dan hanya cukup untuk menutup biaya operasional.

“Saat ini, kondisi gelombang laut selatan memang tidak bersahabat, kemudian ikan yang dapat dijangkau kapal motor tempel hanya sedikit, sehingga hasil tangkapan ikan hanya cukup untuk biaya operasional. Terkadang, hasil tangkapan tidak mencukupi operasional,” kata Wasidi seperti diberitakan Antara di Gunung Kidul, Kamis (18/7).

Baca juga: Pancaroba, Puluhan Ton Ikan di Waduk Kedung Ombo Mati

Beberapa waktu lalu, ia mengemukakan sempat mencoba melaut dengan nelayan lainnya sampai di dekat Pantai Parangtritis, Bantul. Namun hasil tangkapan ikan juga kurang maksimal.

“Belum lama ini kami melaut ke Parangtritis dan hanya mendapatkan uang sebanyak Rp 200 ribu,” katanya.

Dia mengatakan dengan kondisi hasil tangkapan tersebut, nelayan tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, uang yang didapat sebesar itu hanya digunakan untuk biaya melaut pulang pergi. Lantaran itu, ia bersama nelayan lain menangkap ikan menggunakan pancing.

“Selain melaut, kami juga menangkap ikan dengan memancing. Kalau hanya menggunakan jaring, kami tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Wasidin mengatakan pada saat musim ikan, satu kapal bisa menangkap hingga satu kuintal dan hanya membutuhkan beberapa jam saja mendapatkan ikan sebanyak itu jika saat musim ikan.

“Musim ikan itu berkisar September hingga Desember, kemudian pada Januari hingga April. Saat bulan-bulan itu biasanya ikan banyak,” katanya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*