
JoSS, JAKARTA – Wacana terkait masuknya maskapai asing menggarap rute domestik Indonesia membuka peluang kompetisi di industri penerbangan di Tanah Air. Baru jadi usulan, tiga maskapai asing ini sudah bersiap menambah rute penerbangan nasional.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani berkata, mendukung penuh maskapai asing di Indonesia agar mengurangi dominasi Garuda Indonesia dan Lion Air.
Lantas maskapai mana saja yang sudah siap menyambut rencana ini? Hariyadi menyebut nama maskapai regional atau asing dari tiga negara, yakni Malaysia, Australia, dan Singapura.
“Yang siap itu AirAsia, Jet Star, dan Scoot,” jelas Hariyadi di sela open house di rumah Gubernur BI Perry Warijyo di Patiunus, Jakarta Selatan, belum lama ini seperti dikutip dari Liputan6.com.
Hariyadi berkata harga tiket yang mahal memberi dampak negatif ke sektor pariwisata dan perhotelan. Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyebut okupansi hotel menurun antara 10 persen sampai 30 persen akibat masalah tiket pesawat.
Hariyadi menyebut dampak tiket pesawat mahal paling besar ke daerah timur seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Kalimantan, hingga Jayapura. Yang kena dampak pun bukan hanya turisme melainkan geliat ekonomi nasional.
“Jadi tidak hanya pariwisata sebetulnya tapi juga pertumbuhan ekonomi mengganggu. Banyak aktivitas yang harusnya dilakukan, harga tiket mahal, mereka jadi tidak pergi, baik ke Jakarta maupun ke daerah,” ucap dia.
Dia menuturkan bagi kalangan pengusaha, sangat setuju dengan ekspansi maskapai asing di Indonesia untuk menambah rute. Masalah harga tiket pesawat yang mahal menjadi pertimbangan utama dari dukungan ini.
Baca juga: Menhub Dukung Masuknya Maskapai Asing
“Tiket pesawat masih dirasakan mahal dan kami mendukung penuh inisiatif pemerintah untuk memperkenankan pesawat regional atau pesawat penerbangan asing untuk menambah rute domestiknya. Itu kami dukung penuh,” tegasnya.
Hal lain yang disorot oleh Hariyadi adalah dominasi Garuda Indonesia dan Lion Air. Kedua maskapai itu dinilai membuat harga sulit turun.
Akibatnya hal itu memengaruhi minat para traveler lokal. Okupansi hotel pun ikut merosot, ini terutama mendampak daerah timur seperti Sulawesi Selatan.
“Memang dominasi Garuda dan Lion terlalu besar, sehingga harga itu akan sulit terkoreksi karena mereka terlalu dominan,” ujar dia.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, mahalnya harga tiket pesawat tak sebatas merugikan sektor pariwisata, melainkan urusan lainnya karena orang jadi enggan naik pesawat. Efek ini dia prediksi terasa usai Lebaran, lantaran saat ini permintaan tiket pesawat masih tinggi.
“Pengaruh harga tiket terkait Lebaran tidak begitu efek. Lebaran demand-nya tinggi. Tapi sesudah Lebaran baru terasa,” ucapnya. (lna)

Leave a Reply