JoSS, JOGJA – Kabag Humas dan Protokol Universitas Gadjah Mada (UGM) Iva Ariani memastikan biaya masuk ke kampus tersebut tanpa menggunakan uang gedung. Seluruh jalur menggunakan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT).
“Sejak saya menjabat di Kabag Humas tahun 2015 setahu saya sudah tidak ada SPMA [sumbangan peningkatan mutu akademik] lagi, jadi semua sekarang termasuk 2019 ini pakai UKT yang sudah ditentukan dan itu tidak ada biaya lagi,” terang Iva, Kamis (20/6) sore dikutip dari HarianJogja.
Ia mengatakan, seluruh jalur pendaftaran mulai dari SNMPTN, SBMPTN dan Ujian Tulis (Utul) UGM menggunakan sistem pembayaran yang sama yaitu UKT. “Semua jalur itu membayarnya sama sesuai dengan UKT, tidak ada uang gedung atau sumbangan pendidikan. Semua jalur juga masuknya berdasarkan hasil tes atau kemampuan akademiknya,” ujar dia.
Hanya saja, lanjutnya, UKT setiap jurusan tentu berbeda nominal karena menyesuaikan dengan kebutuhan pendidikan. Ia mencontohkan, UKT golongan VIII untuk Prodi Kedokteran yang mencapai Rp26 juta berbeda dengan UKT golongan VIII Prodi Sastra Prancis yang hanya Rp8 juta.
“Karena kalau di kedokteran itu kebutuhan laboratoriumnya lebih banyak. Tetapi yang Rp26 juta itu belum tentu semua lho, kalau ternyata di semua jalur yang diterima di kedokteran itu memang dari kalangan menengah kan nanti UKT-nya menyesuaikan yang tengah-tengah jadi tidak sampai sekian itu [Rp26 juta].,” ucapnya.
Baca juga: Keren, UGM Masuk Daftar 50 Universitas Terbaik Dunia
Iva menambahkan seluruh pembayaran UKT baru bisa dilakukan setelah calon mahasiswa dinyatakan diterima di UGM. “Setelah diterima, calon mahasiswa baru mengisi formulir, salah satunya penghasilan orang tua, nah jumlah penghasilan orang tua itu nanti yang menentukan calon mahasiswa ini masuk di UKT golongan berapa,” ujarnya.
Oleh karena itu, Iva mengimbau kepada masyarakat agar tidak khawatir mendaftar ke UGM terutama di jalur mandiri, karena biaya menggunakan sistem UKT. “Kami berharap masyarakat tidak perlu khawatir mendaftar di UGM,” imbuhnya.
Universitas Gadjah Mada (UGM) saat ini masih dalam tahap pendaftaran calon mahasiswa baru. Bersamaan dengan Perguruan Tinggi lainnya menetapkan kelompok Uang Kuliah Tunggal (UKT) Program Sarjana.
Beberapa jurusan yang menetapkan SPI terendah yakni Rp6.000.000 untuk golongan satu yakni Sastra Jepang, Ilmu Sejarah, Ilmu Perpustakaan dan Antropologi.
Sementara untuk nominal SPI paling tinggi yakni program studi Kedokteran Umum golongan 2 dengan biaya yang cukup fantastis yakni Rp150 Juta per 1 kali masa studi. (lna)

Mohon bantu untuk penjelasannya…
Bila penghasilan orang tua dikisaran 2.500.000 s.d 3.500.000, dan ingin kuliah di fakultas kedokteran UGM, maka biaya kuliah persemester yg harus dibayar jadinya brapa ?
Trima kasih sebelumnya…
Kelompok UKT Kriteria penghasilan
UKT 0 Peserta Beasiswa Bidikmisi
UKT 1 Penghasilan ≤ Rp500.000,00
UKT 2 Rp500.000,00 < Penghasilan ≤ Rp2.000.000,00
UKT 3 Rp2.000.000,00 < Penghasilan ≤ Rp3.500.000,00
UKT 4 Rp3.500.000,00 < Penghasilan ≤ Rp5.000.000,00
UKT 5 Rp5.000.000,00 < Penghasilan ≤ Rp10.000.000,00
UKT 6 Rp10.000.000,00 < Penghasilan ≤ Rp20.000.000,00
UKT 7 Rp20.000.000,00 Rp30.000.000,00
jadi tidak ada pembayaran biaya apapunlagi selain UKT saja?
seperti misalnya kalau di sekolah sma kan ada biaya maasuk, beda lagi dengan spp yang harus dibayar perbulannya. mohon dijelaskan saya masih bingung,. terima kasih.
Kelompok UKT Kriteria penghasilan
UKT 0 Peserta Beasiswa Bidikmisi
UKT 1 Penghasilan ≤ Rp500.000,00
UKT 2 Rp500.000,00 < Penghasilan ≤ Rp2.000.000,00
UKT 3 Rp2.000.000,00 < Penghasilan ≤ Rp3.500.000,00
UKT 4 Rp3.500.000,00 < Penghasilan ≤ Rp5.000.000,00
UKT 5 Rp5.000.000,00 < Penghasilan ≤ Rp10.000.000,00
UKT 6 Rp10.000.000,00 < Penghasilan ≤ Rp20.000.000,00
UKT 7 Rp20.000.000,00 Rp30.000.000,00
Jadi untuk penerimaan mahasiswa baru 2020 ini apakah masih ada spi atau uang pangkal untuk jalur mandiri?