JoSS, JOGJA – Pengamat Transportasi sekaligus Guru Besar Transportasi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) , Prof. A. Munawar menyatakan angkutan pendukung akses ke Yogyakarta International Airport (YIA) yang belum dioptimalkan.
Menurut dia, mulai beroperasinya YIA tentunya akan diikutip dengan penambahan jumlah penerbangan, termasuk penerbangan internasional. Akan tetapi, masalah aksesibilitas masih menjadi kendala.
“Sebenarnya, yang sangat diperlukan bukanlah jalan tol, akan tetapi angkutan umum yang reliable alias dapat diandalkan dan murah,” ujarnya, Rabu (26/6) seperti dikutip dari Harianjogja.com.
Ia mencontohkan, di beberapa negara Asia, misalnya bandara Narita yang jauh dari pusat Tokyo. Kemudian, bandara Incheon yang jauh dari Seoul, demikian pula bandara International Hongkong juga jauh dari pusat kota.
Kendati demikian, akses dari bandara-bandara tersebut dapat ditempuh dengan bus Limousine berkualitas tinggi dengan harga relatif murah. Langsung ke titik-titik pusat kota, dengan titik henti di hotel-hotel pusat kota. Kereta api juga langsung dari bandara ke pusat kota.
Bahkan dari Stasiun Kowloon dapat check in, sehingga penumpang dapat naik kereta api langsung ke Bandara Internasional Hongkong tanpa membawa bagasi.
Baca juga: DIY dan Pusat Sepakat, Tak Ada Jalan Tol Ke YIA
“Akses angkutan umum yang disediakan menuju YIA masih sangat kurang, dibandingkan bandara-bandara Internasional di negara-negara Asia lainnya tersebut,” kata dia.
Munawar menyebut, kereta api harus turun di Wojo atau Wates, kemudian berganti dengan naik bus. Bus yang disediakan oleh Damri hanya bus pemandu moda, point to point yang sangat terbatas titik pemberangkatan penumpangnya.
Dalam pandangannya, sebenarnya ada alternatif lain yang dapat dikembangkan, tetapi terkendala birokrasi. Bus-bus berkualitas tinggi sebenarnya dapat disediakan oleh perusahaan-perusahaan bus swasta di DIY, dengan titik-titik henti di hotel-hotel.
Misalnya saja dari hotel-hotel daerah Monjali menuju ke YIA. Dari jalan Adisucipto – jalan Solo ke YIA dan masih banyak rute-rute potensian yang dapat dikembangkan. Kemungkinan besar, hotel-hotel yang menjadi titik-titik henti akan bersedia memberi dukungan finansial bagi beroperasinya bus-bus tersebut.
Akan tetapi, hanya BUMN atau BUMD seperti DAMRI yang dapat ditunjuk untuk pengoperasian trayek tersebut. Bus swasta tidak diperkenankan.
Selain itu, saat ini ada bus-bus Damri dengan ukuran bus besar yang beroperasi keliling ring road. Hanya saja tingkat isian bus-bus tersebut sangat kecil, hanya sekitar 20 %. Diperkirakan, jika trayek tersebut dipindahkan rutenya menuju YIA, dengan titik-titik henti hotel-hotel di sekitar Ring Road dan beberapa pusat kegiatan, tentu akan sangat bermanfaat dan titik isian akan menjadi tinggi.
“Akan tetapi lagi-lagi terkendala birokrasi, SK trayek bus DAMRI sudah ditentukan dan sulit untuk dirubah. Jika kendala birokrasi tersebut tidak dapat didobrak, akses ke YIA tetap buruk, dikhawatirkan YIA akan bernasib sama seperti Bandara Kertajati, sepi,” tuturnya. (lna)

Leave a Reply