
JoSS, BALI – Gunung Agung di Bali kembali mengalami erupsi dan memuntahkan batu atau lava pijar sejauh 3 kilometer ke segala arah. Akibatnya, beberapa daerah di Karangasem hingga Tabanan terpapar hujan abu.
Kepala Pelaksana BPBD Karangasem Ida Bagus Arimbawa mengatakan erupsi terjadi pada pukul 19.23 Wita. Muntahan lava pijar terlihat membakar semak belukar yang ada di sekitar puncak gunung.
“Sementara laporan BPBD se-Bali, beberapa titik di Kabupaten Bangli, Gianyar, Badung, dan Tabanan terpapar hujan abu,” katanya, kepada wartawan, Jumat (24/5).
Arimbawa mengatakan, di daerah Karangasem, ada delapan desa yang terpapar hujan abu dan pasir tebal. Sementara bagian utara dan timur Gunung Agung dilaporkan nihil hujan abu maupun pasir.
“Pascaerupsi tadi, beberapa daerah yang terpapar hujan abu dan pasir tebal yakni Desa Pempatan (Dusun Pura Gae, Pemuteran), Desa Besakih (Dusun Temukus, Angsoka, Kesimpar, Dusun Besakih Kangin), Desa Menanga (Dusun Belatung, Pejeng, Menange), Desa Sebudi (Telung Bhuana, Pura Lebih, Badeg, Dukuh, Sogra, Sebun, Sebudi, Bukit Galah), dan Desa Muncan. Kemudian Desa Amerta Bhuana, Desa Nongan, Desa Rendang,” terangnya.
Meski begitu, tidak ada pergeseran warga atau tidak ada yang mengungsi. Arimbawa pun meminta masyarakat tetap waspada dan jangan panik.
Baca juga: Aktivitas Pedagang Pasar Tumpah Dilarang Selama Arus Mudik dan Balik
“Erupsi seperti saat ini (tidak terpantau kolom abu) sudah berkali-kali terjadi. Tiga erupsi terakhir Gunung Agung tanggal 12 (Mei), 18 (Mei), dan 24 Mei (setiap 6 harian) karakternya relatif sama. Masyarakat diminta tetap tenang dan mengikuti rekomendasi PVMBG untuk tidak beraktivitas di radius 4 km,” imbau Arimbawa.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM merilis saat ini Gunung Agung dalam status level III atau siaga. Masyarakat maupun wisatawan diminta tidak beraktivitas di radius 4 km dari kawah puncak Gunung Agung.
Berikut dua rekomendasi PVMBG terkait erupsi Gunung Agung malam ini:
1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak melakukan aktivitas apa pun di Zona Perkiraan Bahaya, yaitu di seluruh area di radius 4 km dari kawah puncak G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual/terbaru.
2. Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi, terutama pada musim hujan, dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung. (lna)

Leave a Reply