
JoSS, SEMARANG – Film dokumenter produksi Watchdoc ‘Sexy Killers’ dalam dua hari terakhir ramai diperbicangkan di lini masa dan menjadi isu yang seksi di kalangan warganet. Film besutan jurnalis Dhandy Dwi Laksono itu sudah ditonton lebih dari delapan juta kali di Youtube.
Film berdurasi hampir 1,5 jam itu menyorot sisi kelam bisnis tambang batu bara serta nasib masyarakat yang tinggal di daerah dekat pertambangan batu bara dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Selain itu, film ini juga menyebut sejumlah nama, baik dari kubu paslon capres-cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin maupun paslon nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga.
Dirilis menjelang pelaksanaan Pemilu 2019, Sexy Killers menuai beragam reaksi dari warganet. Bagaimana tidak, film ini menjadi diskusi yang seksi. Ada yang mengaitkannya dengan situasi politik yang panas dan ajakan golput, tapi banyak pula yang memandang film ini sekedar pengingat untuk menjaga kelestarian alam.
“Sexy Killers” diawali dengan penggunaan listrik dalam kehidupan sehari-hari. Lalu dari mana sumber listrik. Lstrik di Indonesia umumnya berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). PLTA menggunakan air sedangkan PLTU menggunakan batubara. Lalu darimana asal batubara?
Batubara adalah fosil tumbuh-tumbuhan. Di dalamnya tersimpan energi potensial. Ada banyak penambangan batu bara di Indonesia. Salah satunya di kawasan Kalimantan Timur, dari Samarinda hingga Sangatta.
Kalimantan tak lagi hutan rimba dengan pepohonan yang rapat dan alam yang begitu hijau. Tapi kini kerusakan alam itu begitu merajalela. Alam Kalimantan dan Sumatera sebagian rusak karena aksi penambangan dan perkebunan kelapa sawit yang membabi buta.
Ada beberapa yang mengungkapkan keprihatinannya. Ada pula yang menilai film ini mendorong gerakan golput karena menggambarkan hubungan langsung dan tak langsung capres-cawapres dengan bisnis batu bara.
Baca juga: Diskonan Pemilu, Pengunjung Mall di Solo Membeludak
“It seems #SexyKillers berhasil membuat suasana masa minggu tenang pilpres-pileg jadi sedikit gaduh..,” tulis sebuah akun di Twitter.
“Sulit menampik bahwa film itu cenderung mendiskreditkan suatu pihak dan juga ada muatan untuk menggiring opini pemilih agar golput #SexyKillers,” tulis akun lainnya.
Tak ketinggalan, film ini juga menarik perhatian penyanyi Via Vallen. Dia pun mengungkapkan unek-uneknya tentang film ini melalui akun Instagram-nya.
“Ada yang sudah nonton ini??? Pendapat kalian apa tentang video ini??? Aku udah nonton dari kemarin cuma masih dapet setengah dan itu bener2 udh bikin perasa’an dan pikiran ikut sedih, emosii, kesel jadi satu,” tulis Via Vallen dalam postingan yang menampilkan film Sexy Killers.
Meski demikian, film ini ternyata tak mampu menurunkan tingkat pastisipasi masyarakat untuk memilih. Media Survey Nasional (Median) melakukan hitung cepat Pilpres 2019 di kawasan Pomelotel, Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Menurut Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun Pilpres 2019 kali ini meraup sekira 82% partisipan.
“Angka ini naik 10% dari 5 tahun lalu, bahkan dari survey kami kenaikan terjadi baik dari perkotaan dan perdesaan. Partisipasi di luar negeri sangat luar biasa,” kata Rico, Jakarta, Rabu (17/4). (lna)

Leave a Reply