Satu Desa di Negombo Sri Lanka Makamkan Puluhan Jenazah Korban Bom Paskah

JoSS, SRI LANKA – Pemandangan memilukan terjadi di satu desa di Negombo, Sri Lanka saat puluhan peti jenazah diarak menuju pemakaman diiringi isak tangis warga setempat.

Puluhan jenazah itu bagian dari 150 orang yang meninggal dunia yang menjadi korban serangan ledakan bom di Gereja St. Sebastian di Hari Paskah pada Minggu (21/4) lalu. Gereja ini menjadi satu dari 6 bangunan yang terdiri dari 3 gereja dan 3 hotel yang diledakkan dalam serangkaian aksi teror bom Paskah.

Di lapangan tanah di tengah desa tersebut, pada Senin (22/4) waktu setempat, para kerabat dan tetangga korban berkumpul di bawah tenda dan pohon kelapa, saling peluk dan menyeka air mata.

Di dalam salah satu rumah, jasad tiga korban yang merupakan keluarga dibaringkan. Ketiga jenazah itu sudah dimandikan dan ditutupi pakaian sedemikian rupa sehingga luka bekas tembakan di tubuh mereka tak terlihat.

Sementara itu, di rumah lainnya, terlihat peti yang sudah tertutup rapat. Keluarga salah satu korban itu memutuskan untuk mengunci peti karena tak kuasa melihat jasad kerabatnya hancur terkoyak bahan peledak.

Baca juga: Sedikitnya 160 Orang Meninggal Dunia Dalam Serangan Bom ‘Paskah’ di Sri Lanka

Setiap orang di Negombo menyimpan duka tersendiri di lubuk hatinya. Mereka hampir pasti memiliki kerabat yang tewas atau terluka dalam rangkaian serangan pada Minggu tersebut.

Di gereja St. Sebastian saja, 150 jemaat tewas saat mereka sedang beribadah merayakan hari kebangkitan Yesus Kristus.

Tak hanya di Gereja St. Sebastian, tujuh lokasi lainnya juga menjadi sasaran serangan bom yang meledak dalam waktu berdekatan, merenggut total 310 nyawa dan melukai ratusan orang lainnya di Negombo, Kolombo, serta sejumlah daerah lainnya.

Para warga di Negombo masih tak percaya dengan tragedi yang menimpa negaranya. Mereka semakin heran setelah mengetahui kabar bahwa intelijen Sri Lanka sebenarnya sudah mengetahui potensi serangan sejak sepuluh hari sebelum Hari Paskah.

Kala masih merenung, mereka kembali dikejutkan dengan kabar satu bom lagi meledak saat aparat sedang menjinakkannya pada Senin. Bom itu meledak di lokasi yang sangat dekat dengan salah satu gereja target serangan pada Minggu lalu.

Mereka mengaku tak percaya harus menghadapi teror lagi dalam keseharian setelah perang sipil antara gerilyawan Tamil dan angkatan bersenjata berakhir pada 2009 lalu.

Para warga juga tak menyangka, perdamaian antara komunitas beragama di negara mereka bisa retak.

“Bahkan selama perang sipil, kami tidak pernah melihat serangan kekerasan seperti itu, terutama di tempat ibadah,” ujar seorang pastor, Indarajid Sunasekaran, yang berkeliling desa untuk mendoakan para korban.

Warga di seluruh penjuru Sri Lanka mengheningkan cipta secara serentak selama tiga menit pada Selasa (23/4) pagi sebagai penghormatan terhadap 310 korban yang tewas dalam serangan bom beruntun saat perayaan Hari Paskah lalu.

Warga Sri Lanka kompak menundukkan kepala ketika mengheningkan cipta dimulai sekitar pukul 08.30 pagi waktu lokal.

Sebagai bentuk penghormatan lainnya, bendera nasional juga dikibarkan setengah tiang di hari yang ditetapkan pemerintah sebagai hari berkabung ini. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*