Pembuatan Sabuk Hijau Bandara NYIA Masih Terkendala Pembebasan Lahan

NYIA
Ilustrasi | Foto: google

JoSS, JOGJA – Pembuatan sabuk hijau sebagai penghalau tsunami di New Yogyakarta International Airport (NYIA) masih terkendala pembebasan lahan. Hingga kini, PT Angkasa Pura I masih menunggu inisiatif dari Pemerintah Kabupaten Kulonprogo.

Istilah sabuk hijau, digunakan untuk pemanfaatan kawasan tepi pantai sebagai penyangga bandara. Di daerah penyangga itu nantinya akan ditanami vegetasi yang bisa berfungsi sebagai “tsunami barrier” atau penghalau tsunami.

Project Manager Bandara Internasional Yogyakarta Taochid Purnama Hadi mengatakan PT Angkasa Pura I selaku pengelola NYIA saat ini pada posisi menunggu, karena berdasarkan peraturan presiden, pembuatan sabuk hijau itu adalah tanggungjawab pemerintah setempat.

“Kami saat ini posisinya masih menunggu inisiatif dari Pemerintah Kabupaten Kulonprogo. Karena berdasarkan Perpres hal itu bukan menjadi tanggung jawab AP I,” katanya seperti dikutip dari Antara, Kamis (11/4).

Dia mengatakan pengadaan ‘sabuk hijau’ merupakan satu dari 15 point yang disampaikan lembaga Ombudsman RI yang harus dipenuhi dalam pengoperasian NYIA mengingat lokasi ini rawan terhadap ancaman tsunami.

Di sisi lain, lanjutnya kawasan tepi pantai itu ada di luar lahan yang saat ini dikelola AP I untuk pengerjaan Bandara Internasional Yogyakarta. Meski demikian, pihaknya mengaku siap untuk bekerjasama.

Selama ini, lanjutnya pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemkab Kulon Progo untuk memanfaatkan kawasan tepi pantai sebagai penyangga bandara. Di daerah penyangga itu nantinya akan ditanami vegetasi yang bisa berfungsi sebagai “tsunami barrier” atau penghalau tsunami.

“AP I akan siap bekerja sama untuk hal tersebut (pembuatan sabuk hijau) ,” katanya.

Sebelumnya, perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko mengingatkan perlu adanya kepastian pembangunan “tsunami barrier” atau infrastruktur penghalang tsunami di kawasan Bandara Internasional Yogyakarta untuk mengantisipasi potensi tsunami dengan ketinggian 10-15 meter di bibir pantai Kulon Progo.

Baca juga: NYIA Bakal Dilengkapi Terowongan Terpanjang di Indonesia

Widjo dalam sebuah diskusi panel di Yogyakarta mengatakan potensi tsunami dengan tinggi gelombang 10-15 meter di bibir pantai yang berjarak 300 meter dari area landas pacu Bandara Internasional Yogyakarta diasumsikan apabila terjadi gempa megathrust dengan magnitude 8,5-9 SR.

Sementara itu, Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo mengatakan belum adanya sabuk hijau dan penahan gelombang laut untuk mitigasi tsunami tersebut lantaran masih ada problem dengan masyarakat setempat yang enggan untuk direlokasi.

“Sabuk hijau dan pasir penahan itu suatu keniscayaan, harus dilakukan. Problem-nya ada warga yang punya tambak, rumah. Tugas saya sebagai bupati berkomunikasi kepada mereka, mereka inginnya sebagai apa,” katanya.

Sabuk hijau panjangnya sekitar 5 kilometer dari Pantai Glagah sampai ke Congot. Hasto menyebut di sana masih ada beberapa tambak udang dan juga rumah yang digunakan untuk penginapan. “Tanahnya itu milik Pakualaman,” katanya.

Pembangunan sabuk hijau untuk mitigasi tsunami dengan penanaman pohon Cemara Udang. Dalam hal ini pihaknya juga telah membuat Detail Engineering Design (DED). “Nantinya kan bisa untuk wisata, itu juga menambah rejeki. Tidak harus tambak udang dan penginapan yang ilegal itu,” katanya.

Untuk penggarapan, pihaknya terlebih dahulu nantinya melakukan MoU atau nota kesepahaman bersama Pakualaman, Pemkab, dan juga Angkasa Pura I. Baru kemudian mendengar aspirasi dari warga setempat. “Akhir April nanti mungkin belum melakukan penanaman (Cemara udang),” ucapnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*