Kisah Petugas KPPS, Hadapi Protes hingga Pingsan 

JoSS, SEMARANG – Pemilu 2019 telah usai. Namun masih menyisahkan gurat lelah para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Selain lelah, mereka memiliki kisah menarik. Mulai dari menghadapi protes pemilih yang tidak bisa memilih, sampai ada petugas KPPS yang pingsan, bahkan menemukan pemilih meninggal dunia di lokasi TPS. JoSS.co.id merangkumnya di sini.

Saat hari Rabu (17/4) sudah merambat menuju tengah malam, sejumlah petugas KPPS di salah satu Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Bengkong, Batam, masih terus berkutat menyelesaikan proses perhitungan dan rekapitulasi suara tingkat kelurahan. Wajah-wajah mereka sudah terlihat lelah, tak secerah pagi saat mulai bertugas.

TPS 14 Kelurahan Tanjung Buntung, Kecamatan Bengkong, Batam, adalah salah satu TPS yang sempat mengalami kekurangan surat suara. Sehingga sejumlah pemilih yang datang, sempat marah-marah melontarkan protes.

Menurut salah satu petugas KPPS, Tiurlan Napitupulu, bahwa perhitungan suara masih tersisa beberapa kota suara lagi.

“Masih lama ini, mungkin bisa sampai subuh,” kata Tiurlan, seperti yang dilansir dari Batamnews.co.id, Kamis (18/4).

Dia mengatakan, proses ini lama karena siang hari sempat terjadi protes dari masyarakat karena tidak bisa memilih. Setidaknya ada sekitar hampir 100 pemilih yang tidak kebagian surat suara.

Protes yang dilancarkan masyarakat itu membuat kewalahan petugas KPPS. Apalagi mereka notabene hanya bertugas melakukan pemungutan dan penghitungan suara di TPS.

Jumlah mau pun keberadaan logistik bukanlah hal yang mereka pahami. Namun, beberapa petugas KPPS memilih bersabar dan melayani masyarakat dengan tenang agar pemilu terus berjalan lancar.

Tiurlah terpaksa menenangkan pemilih yang protes untuk bisa sabar. Sembari beberapa petugas KPPS lain mengkomunikasikan kekurangan surat suara tersebut dengan KPU Kota Batam.

Baca juga: 111 Daerah Peserta Pilkada Serentak Serahkan Hasil Rekapitulasi ke KPU

“Kami hanya bisa menerima protes itu dan meminta mereka untuk sabar,” ujarnya.

Sementara di Gorontalo, Arfan H Udin, petugas perlindungan masyarakat (Linmas) yang kerap bertugas di TPS bercerita suka dukanya dalam setiap event pemilu.

“Tugas linmas itu menjaga berjalannya pemungutan suara dengan aman, kalau ada hal yang terjadi, kami yang turun. Kami juga yang menjaga pintu masuk dan keluar TPS,” kata Arfan, seperti yang dilansir dari 60dtk.com, Kamis (18/4).

Sebagai Linmas, dia merasa senang dihargai oleh masyarakat yang datang untuk nyoblos. “Tetapi yang nggak bagus adalah, pekerjaan yang seharusnya cepat selesai justru jadi lambat,” kata Arfan.

Hal senada disampaikan Hengky Ayuba. Dia senang banyak masyarakat yang percaya dan menghargai tugasnya sebagai linmas saat ada pemilu. “Tetapi nggak enaknya, kalau tiba-tiba ada yang berkelahi,”ujar Hengky.

Akan tetapi tugas KPPS mau pun linmas di lokasi TPS juga bisa memicu terjadinya penyakit lantaran kelelahan. Ini seperti yang dialami dua petugas KPPS di Bogor. Kedua petugas itu adalah Iman Yusuf (26 tahun), dan Pendi (27 tahun).

Yusuf sempat duduk kemudian pingsan saat penghitungan suara DPRD Kabupaten Bogor di TPS 09, Desa Karya Mekar, Kecamatan Cariu, dan menjalani perawatan di Puskesmas Cariu. Sedangkan Pendi pingsan saat penghitungan suara caleg DPRD di TPS 10 Desa Karya Mekar, Kecamatan Cariu. Dan dirawat di Rumah Sakit Loji, Karawang.

Komisioner KPU Kabupaten Bogor Herry Setiawan, minta pemkab Bogor, agar kedua petugas KPPS itu mendapat fasilitasi optimal.

Bukan cuma petugas KPPS yang pingsan dalam tugas pemilu 2019. Namun ada pula pemilih yang pingsan di TPS hingga akhirnya meninggal dunia.

Mutini (62), warga Dusun Krajan, Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, sempat pingsan dan kemudian meninggal dunia pada saat pemungutan suara di bilik TPS 09 di SDN Sepanjang 01, Dusun Krajan, Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi.

“Korban sempat pingsan waktu di TPS 09. Kemudian sempat dilarikan ke RSI Gondanglegi. Namun nyawanya tidak tertolong,” ungkap Kapolsek Gondanglegi, Kompol A Sujalmo.

Sebelumnya dilaksanakan tindakan pertolongan pertama, kondisi korban tak kunjung membaik sehingga dilarikan ke UGD RSI Gondanglegi.

“Sesaat setelah dilakukan tindakan RGP, namun nyawa korban sudah tidak tertolong. Menurut diagnosa dari dokter jaga di UGD RSI Gondanglegi, korban meninggal karena serangan jantung,” bebernya. (nug/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*