
JoSS, AMERIKA SERIKAT – Boeing meminta penambahan waktu untuk menyelesaikan pembaharuan perangkat lunak (Software) pesawat jenis 737 MAX dari yang semula ditargetkan selesai akhir Maret. Akibatnya masa larangan terbang pengoperasian pesawat tersebut diperpanjang.
Juru bicara Boeing, Charles Bickers menyatakan pihaknya masih butuh waktu untuk memperbaiki perangkat lunak pesawat yang dalam beberapa bulan terakhir mengalami kecelakaan dengan kasus yang nyaris sama.
“Keselamatan adalah prioritas utama kami, dan kami akan melakukan pendekatan menyeluruh terhadap pengembangan dan pengujian pemutakhiran perangkat lunak sampai tidak ditemukan masalah,” katanya seperti dilansir Associated Press, Selasa (2/4).
Sementara itu, Lembaga Penerbangan Federal AS (FAA) menyatakan sudah memperkirakan jika waktu proses pembaruan perangkat lunak 737 MAX mundur dari jadwal semula.
Menurut juru bicara FAA, Greg Martin, Boeing meminta tambahan waktu untuk bisa memastikan bisa mengenali dan menyelesaikan seluruh permasalahan yang terjadi. Boeing tidak hanya butuh persetujuan FAA, tetapi juga dari Eropa dan China. Keduanya menyatakan akan melakukan penilaian secara mandiri.
Jika pemutakhiran dan pengujian perangkat lunak 737 MAX mulur dari jadwal semula, maka akan membuat repot sejumlah maskapai yang menggunakan pesawat itu. Mereka mesti mencari pesawat pengganti atau membatalkan sejumlah penerbangan.
Baca juga: Sah, Berkendara Sambil Merokok Bakal Didenda Rp750 Ribu
Boeing mengubah perangkat lunak otomatis yang dirancang untuk menangkal moncong pesawat terangkat, yang bisa membuat kondisi pesawat melawan aliran udara dan kehilangan daya angkat (stall).
Perubahan perangkat lunak itu dilakukan supaya bisa membaca data dari sejumlah sensor sebelum sistem anti-stall aktif yang kerap membuat moncong pesawat menukik mendadak. Pembaruan sistem diklaim membuat pilot lebih mudah mengendalikan pesawat. Boeing menyatakan akan menyediakan anggaran untuk pelatihan pilot.
FAA dan Boeing saat ini sedang menunggu hasil penyelidikan kecelakaan pesawat 737 MAX yang dioperasikan maskapai Ethiopian Airlines. Ada dugaan penyebab insiden itu mirip dengan peristiwa pesawat 737 MAX yang dioperasikan Lion Air, yang jatuh di Laut Jawa pada 29 Oktober 2018.
Kongres AS saat ini juga sedang menyelidiki hubungan antara Boeing dan FAA, soal penerbitan sertifikasi 737 MAX. Komite Perhubungan dan Infrastruktur Dewan Perwakilan sudah meminta arsip sertifikasi dari Boeing dan FAA. (lna)

Leave a Reply