
JoSS, WONOGIRI – Kabupaten Wonogiri tak luput dari bencana tanah bergerak. Mencoba mengingatkan, Februari 2019 lalu, di Dusun Joho, Desa Gedawung, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri terjadi pergerakan tanah. Peristiwa tersebut sempat menyebabkan satu unit rumah rusak tertimpa longsoran tanah.
Bahkan akibat peristiwa tanah bergerak itu, warga mengungsi ke tenda atau ke rumah warga lainnya yang dianggap lebih aman. Peristiwa tanah bergerak di daerah Joho itu terus mendapat pemantauan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri. Sejumlah personel BPBD telah ditempatkan di lokasi untuk memantau pergerakan tanah itu.
Di lokasi tersebut BPBD sempat memperbaiki dan mengalibrasi kawat seling yang sempat putus akibat tanah bergerak. Selain itu BPBD meminta warga untuk bertahan di pengungsian hingga kondisi sudah aman.
Untuk mendeteksi tanah bergerak hendaknya perlu dipasang alat sistem peringatan dini atau early warning system (EWS). Akan tetapi di Wonogiri belum semuanya, sehingga perlu penambahan. Penambahan alat EWS bisa melibatkan perusahaan dan BUMN melalui dana corporate social responsibility (CSR).
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto mengatakan, saat ini baru ada 14 alat EWS yang tersebar di Kecamatan Purwantoro, Sidoharjo, Manyaran, Jatiroto, Bulukerto, Wonogiri, Kismantoro, dan Karangtengah. Penambahan alat EWS dibutuhkan untuk mencegah jatuhnya korban.
Beberapa wilayah yang butuh tambahan alat EWS antara lain Dusun Bangunsari, Desa Dlepih, Tirtomoyo, yang belum lama ini terjadi kasus tanah bergerak.
“Alat EWS perlu ditambah mungkin dengan melibatkan peran CSR. Saat ini kami masih memetakan berapa jumlah tambahan yang diperlukan. Pemetaan belum selesai,” kata Bambang, sesuai yang dilansir dari solopos.com, Selasa (26/3).
Baca juga: Patut Ditiru, Pemkab Wonogiri Gratiskan Seragam SD dan SMP
Ia menjelakan bencana tanah bergerak bisa ditemui di 11 kecamatan di Wonogiri. Setiap kecamatan memiliki beberapa lokasi rawan tanah bergerak. Di dekat kawasan kota Wonogiri, tanah bergerak bisa ditemui di Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri.
Di Tirtomoyo, lanjut Bambang, potensi rawan becana tidak sekadar tanah bergerak, tapi juga banjir. Hal itu dipicu oleh tingkat sedimentasi yang tinggi di bagian hulu Bengawan Solo. Sedimentasi itu tak sekadar mengubah bentuk atau menggeser posisi sungai, tapi juga berdampak kepada pendangkalan Waduk Gajah Mungkur.
“Ini membutuhkan revitalisasi dan normalisasi sungai. Tapi kewenangan itu tidak ada di kami,” ujar dia.
Bambang menjelaskan tanah bergerak yang terjadi di Joho, Kismantoro dan Bangunsari, Tirtomoyo, menandakan ada potensi tingkat kerawanan yang cukup tinggi. Namun, BPBD sendiri tidak bisa menentukan kapan bencana itu akan terjadi. Yang dilakukan adalah mitigasi risiko bencana.
“Ada kajian geologis soal tanah bergerak. Kami tidak tidak tahu kapan akan terjadi [longsor], mungkin empat hari lagi, mungkin bulan depan atau tahun depan. Yang kami lakukan adalah mitigasi salah satunya dengan mengungsikan warga ke tempat yang lebih aman,” terang dia. (nug/lna)

Leave a Reply