Lowongan Algojo Hukuman Mati di Iklankan di Media

Algojo
Iklan lowongan algojo hukuman mati di Sri Lanka | Foto: nytimes.com

JoSS, COLOMBO – Untuk mendukung program Presiden Sri Lanka, Maithripala Sirisena yang akan mencanangkan kembali hukuman gantung yang sempat dibekukan selama beberapa decade, pemerintah Sri lanka mencari/membutuhkan algojo untuk hukuman mati melalui iklan di Koran.

Setelah itu pada Januari lalu seperti diwartakan. Dalam iklan di koran, pemerintah mewajibkan calon algojo harus mempunyai karakter moral yang bagus dan kekuatan mental yang mumpuni.

Algojo terakhir Sri Lanka dilaporkan keluar pada 2014 tanpa mengeksekusi satu orang pun setelah dia diduga stres karena melihat tiang gantungan untuk pertama kalinya.

Sementara satu algojo lain yang dipekerjakan pada 2018 ternyata tidak pernah menunjukkan batang hidungnya yang membuat Colombo kembali membuka lowonganlowongan.

Juru bicara penjara Thushara Upuldeniya menjelaskan, ada 102 pelamar untuk posisi algojo dengan pemerintah ingin menggalakkan hukuman mati bagi pengedar narkoba. Salah satu dari pelamar diketahui merupakan warga Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Pencalonan Kakak Raja Thailand Ubah Tatanan Politik Negara

Namun, lamarannya ditolak setelah warga asing dianggap tidak memenuhi kriteria. Kebijakan garis keras tersebut terinspirasi oleh perang narkoba di Filipina di mana ribuan orang dilaporkan tewas tertembus timah panas polisi.

Peredaran narkoba merupakan kasus terberat meski Sri Lanka belum pernah menghukum mati seseorang yang terbukti bersalah sejak 1976 silam. Kepada Reuters, Upuldeniya menurut dirinya tidak tahu apakah pemerintah bakal benar-benar menerapkan hukuman mati setelah absen selama 43 tahun.

“Yang jelas, kami ingin mempekerjakan dua orang untuk mengisi posisi algojo, dan siap jika pemerintah kembali melaksanakan hukuman mati,” ujar Upuldeniya.

Nantinya, pelamar yang lolos posisi sebagai algojo bakal mendapat gaji 36.310 rupee, sekitar Rp 2,8 juta, per bulan dan menjadi gaji tertinggi di pemerintahan. Cerita soal algojo, sebenarnya di Indonesia sendiri telah pernah ada. Bahkan sejak zaman Kerajaan Mataram.

Merekadinamai Mertolulut, semacam gelar atau julukan untuk abdi dalem raja yang tugasnya mengeksekusi hukuman yang dijatuhkan pengadilan kerajaan.

Mertolulut sendiri berasal dari kata merto dan lulut. Secara harafiah, Mertolulut artinya sabar menunggu kematian. Sedangkan tempat tugasnya dinamai Pacikeran, berasal dari kata ciker atau potongan jari, sesuai keahlian mereka memotong jari maling, kecu, begal, bandit yang tertangkap. (Wiek/lna)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*