
JoSS, SOLO — Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Toya Wening Solo mencatatkan kehilangan air atau non-revenue water (NRW) sebanyak 10,7 juta meter kubik selama 2018. Bila menggunakan tarif Rp2.250/meter kubik, air yang hilang itu senilai Rp24,08 miliar.
Direktur Teknik PDAM Toya Wening, Triatmojo Sukomulyo mengatakan air yang hilang selama setahun itu nyaris setara dengan air yang ditampung di Waduk Cengklik di Ngemplak, Boyolali. Waduk Cengklik selama ini menampung air sebanyak 9 juta meter kubik-12 juta meter kubik.
“Itu airnya kalau ditampung bisa untuk mengisi waduh sebesar waduk Cengklik,” katanya, seperti dikutip dari Solopos.com, Senin (11/3).
Dia menambahkan NRW di Kota Solo mencapai 45,2% dari total air. Ada tiga komponen NRW yaitu konsumsi resmi tak berekening sebanyak 14.821 meter kubik per tahun (0,1%), kehilangan komersial sebanyak 1,9 juta meter kubik per tahun (8,1%), dan kehilangan fisik sebanyak 8,7 juta meter kubik per tahun (37%).
Dia menyatakan kehilangan fisik dikarenakan kebocoran pipa transmisi, distribusi dan pipa dinas hingga pipa meter pelanggan, serta kebocoran atau luapan air pada reservoir. Sementara kehilangan komersial dikarenakan konsumsi air tidak resmi (ilegal), ketidakakuratan meter, ketidakakuratan pembacaan meter, serta kesalahan pengolahan data.
Baca juga: PDAM Bantul Jual Air Minum Kemasan
”Kami berupaya mengurangi kehilangan komersial dengan mengganti water meter yang umurnya di atas lima tahun secara bertahap,” ujarnya.
Tahun ini, lanjutnya pihaknya akan mengganti 6.000 unit terlebih dahulu. Berdasarkan catatan, ada 36.000 water meter yang umurnya di atas lima tahun. Setelah itu juga akan dilakukan pengecekan eks pelanggan PDAM.
“akan kami cek ulang apakah dia masih menggunakan sambungan air atau tidak. Karena kalau sudah eks, kami tidak lagi membaca meteran airnya,” katanya.
Selain itu, PDAM juga bakal memperketat keakuratan pembacaan meter dan berburu pengguna air ilegal yang menjebol saluran tanpa melalui meteran. Dia menargetkan kehilangan komersial itu dapat ditekan hingga dua persen per tahun.
”Termasuk mencari oknum pelanggan yang mengakali water meter sehingga saat pembacaan meter angkanya selalu kecil atau tidak akurat,” ujarnya.
Kehilangan air atau NRW bukan hanya terjadi di Kota Solo, namun juga di seluruh dunia karena setiap tahun ada 32 miliar meter kubik air yang sudah diolah hilang karena kebocoran dari jaringan-jaringan distribusi.
Ada 16 miliar meter kubik air tersalurkan ke pelanggan tanpa ditagih karena pencurian, pembacaan meter yang buruk, atau korupsi.
Perusahaan air minum di seluruh dunia harus menanggung US$14 miliar atau sekitar Rp196 triliun akibat kehilangan air. Penghematan kebocoran air di seluruh dunia bisa digunakan untuk memberikan pelayanan air kepada 100 juta penduduk tanpa investasi. (lna)

Leave a Reply