JoSS, SEMARANG – Penuh khitmat ketika alunan doa terpanjat untuk para korban penembakan di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru. Dan temaram nyala lilin diantara suasana gelap halaman Gereja Katedral, di Jalan Pandanaran No 9, Semarang, pada Minggu (17/3) malam menambah kekhusyukan doa.
Unik, meski berada di lingkungan gereja namun ritual doa dilakukan sesuai agama dan keyakinan yang ada di Indonesia. Tidak berbarengan namun bergiliran dan saling mengamini.
Mulai dari doa yang dipanjatkan pemuka agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghucu hingga penghayat Ketuhanan Sapto Dharma.
Dipanjatkan pula doa untuk korban banjir bandang di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.
Rangkaian doa untuk para korban dan keluarganya, baik tragedi Selandia Baru maupun bencana Sentani, diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan puisi. Dilanjutkan refleksi oleh Romo Aloysius Budi Purnomo dan Penghayat Sapto Dharma, Arifin.
“Kita bergandengan tangan agar bisa menjadi benteng untuk kebaikan, kebenaran dalam melawan kekerasan di manapun berada,” kata Romo Budi.
Dalam kesempatan itu Romo Budi mengajak umat lintas agama turut mendoakan pelaku penembakan di Selandia Baru. Agar pelaku menyadari kesalahan dan dibuka hatinya atas kebrutalan yang dilakukan.
Baca juga: Evakuasi Banjir Bandang Sentani Diintensifkan, 50 Orang Meninggal Dunia
“Paus Fransiskus pernah berkata, jagalah lidahmu karena lidahmu dapat meledak dan menjadi teror. Melalui lidah kita dapat menteror dengan fitnah, hoaks, ghibah,” paparnya.
Khusus bencana alam di Sentani, Romo Budi menyatakan bisa terjadi kapanpun dan dimana saja.
Karena bersamaan dengan perhelatan pesta demokrasi, ia menyerukan politisi Tanah Air berkampanye berbasis kemanusian. Bukan untuk pencitraan diri namun momen Pemilu 2019 saat ini akan lebih baik dimanfaatkan untuk membantu sesama.
“Bukan dalam rangka pencitraan, tetapi tergerak dari hati untuk membela mereka yang terkena bencana. Itu yang penting,” tegasnya.
Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Setyawan Budi meminta semua pihak tidak mudah terpancing dan terprovokasi atas kejadian di Selandia Baru. Keutuhan dan kebhinekaan yang telah terjalin kuat di Indonesia tidak boleh terkoyak oleh ulah pelaku penembakan.
“Kami sangat prihatin dengan kekerasan yang terjadi di tempat ibadah yang sakral dan seharusnya menjadi tempat yang aman untuk menjalankan ibadah. Hal ini telah mengoyak rasa kemanusiaan sebagai sesama ciptaan Tuhan yang bebas dan merdeka untuk beribadah dengan aman dan khusyuk,” paparnya.
“Kami hadir di sini untuk memberikan kekuatan moril kepada mereka (korban) maupun kepada keluarga korban,” tukas Setyawan Budi. (Joy/lna)

Leave a Reply