Desa Adat di Bali Butuh Alokasi Anggaran

desa adat
Ilustrasi | Foto: google

JoSS, DENPASAR – Tantangan desa adat di Bali ke depan semakin dinamis dalam era global. Oleh sebab itu diperlukan kontribusi negara berupa alokasi anggaran dalam APBN untuk diberikan pada desa adat di pulau Dewata. Tujuannya untuk memelihara alam, tradisi, seni, dan budaya Bali.

Hal itu disampaikan Gubernur Bali, Wayan Koster yang berharap bantuan tersebut dari pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia menyampaikan hal itu pada acara tatap muka dan ramah tamah Presiden dengan tokoh masyarakat Bali, di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar, belum lama ini.

“Bali memiliki adat istiadat yang sangat kuat, tradisi, seni dan budaya yang menjadi aset masyarakat Bali, juga menjadi aset bangsa Indonesia yang harus kita pelihara dengan sungguh-sungguh. Namun, selama ini upaya untuk melestarikan adat istiadat, tradisi, seni dan budaya sepenuhnya dijalankan desa adat di Bali dengan cara swadaya,” kata Koster, yang dilansir dari Antara, Sabtu (23/3).

Tradisi, adat, seni dan budaya yang dimiliki Bali, lanjut dia, selama ini merupakan modal bagi daerah setempat yang telah berkontribusi memberikan nama baik dan harum bagi Bali hingga terkenal di tingkat dunia dan menghasilkan sumbangan devisa yang besar kepada negara melalui sektor pariwisata.

“Sejalan dengan kebijakan pengalokasian anggaran dalam APBN untuk desa dan kelurahan, maka kami mohon kiranya Bapak Presiden berkenan untuk mempertimbangkan alokasi anggaran dalam APBN untuk desa adat di Bali,” ujarnya, pada acara yang dihadiri ribuan masyarakat Bali dari unsur tokoh-tokoh agama, perbekel (kepala desa), bendesa adat, kelihan subak, generasi milenial dan sebagainya.

Baca juga: Karangasem Kembangkan 190 Desa Untuk Tarik Wisatawan ke Bali Timur

Selain itu, Koster juga berkeinginan membangun pusat kebudayaan Bali yang berisi panggung terbuka, museum tematik, gedung seni multifungsi dan sarana lainnya secara terintegrasi untuk memfasilitasi seni budaya yang ada di Bali, yang juga diharapkan mendapat dukungan dari pemerintah pusat.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo juga sependapat bahwa Bali dikenal, dikagumi seluruh dunia karena budayanya, budaya yang hidup dan berkembang di desa-desa pakraman (desa adat).

Bahkan, lanjut Presiden, budaya tersebut masih hidup dan juga dimajukan hingga “sekaa teruna” atau pemuda-pemudi di tingkat banjar (dusun).

“Bali juga menjadi contoh bagaimana harmoni perbedaan ada di Bali. Semua bisa dijadikan contoh bergerak maju tetapi tetap menjaga akar-akar tradisi budaya. Yang paling penting, tidak pernah lelah mencintai Tanah Air Indonesia,” ucap Jokowi yang hadir didampingi Ibu Iriana pada acara yang berlangsung di tengah guyuran hujan tersebut.

Terkait Desa Adat di Bali, sebelumnya, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purnawirawan) Dr Moeldoko berharap keberadaan desa adat di Bali dapat terus dijaga dan dipertahankan karena budaya yang menjadikan pulau ini tetap menarik dikunjungi wisatawan.

“Bali menjadi menarik karena desa adat, dan terkenal karena wisatanya. Itu sebuah kekuatan yang harus dikekola, jangan dikecilkan karena itu menjadi kekuatan dan simbol bagi Bali yang tidak dimiliki daerah lain,” ujarnya. (nug/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*